Tampilkan postingan dengan label Thailand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thailand. Tampilkan semua postingan
Kamis, 29 Mei 2014
Jumat, 25 Oktober 2013
Wat Prasat, Chiang Mai
Wat Prasat adalah nama salah satu dari lebih 40 wat yang terletak di dalam kompleks Old City Chiang Mai. Memang bukan Wat utama, namun letaknya yang berdekatan dengan Wat Phra Singh yang terkenal menjadikannya sayang untuk dilewatkan.
Wat Prasat diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-16. Bangunan inti Wat Prasat terdiri dari Ubosot (tempat penahbisan), sebuah Viharn (ruang doa) dan Chedi (pagoda). Ketiga bangunan tersebut berjajar dalam satu garis lurus.
Viharn pada Wat Prasat dibangun dengan gaya ala Lanna dengan atap berjenjang yang terbuat dari kayu dan full dekorasi berwarna keemasan. Pada pintu masuknya terdaapat tangga dengan 2 naga pada sisinya.
Hal unik dari Wat Prasat adalah adanya terowongan pendek yang menghubungkan Viharn dan Chedi. Hal ini dirasa ganjil karena pada umumnya pintu masuk Viharn berhadapan dengan patung Buddha. Namun di Wat Prasat pintu masuk Viharn berhadapan dengan terowongan menuju Chedi.
Wat Prasat terletak di tepi jalan Inthawororot. Buka mulai jam 6 pagi sampai jam 5 sore.

Related Articles :
Wat di Chiang Mai : Wat Chiang Man; Wat Prathat Doi Suthep
Sabtu, 19 Oktober 2013
Wat Chiang Man, Kuil Tertua di Chiang Mai
Jika anda mengunjungi Chiang Mai - Thailand, maka kita akan familier dengan Old City of Chiang Mai. Kota tua tersebut berbentuk persegi dengan sisi masing-masing sepanjang 1,6 kilometer. Kota itu dikelilingi oleh parit dan tembok kota yang saat ini hanya tersisa di 5 gerbang old city.
Yang unik dari Old City adalah banyaknya "Wat" atau kuil yang terletak di area itu. Total ada 40 lebih Wat di Old City (dan lebih dari 300 di seluruh kota Chiang Mai). Setidaknya ada 3 Wat utama di kompleks Old City yang wajib dikunjungi, yaitu : Wat Phra Singh, Wat Chedi Luang dan Wat Chiang Man.
Wat Chiang Man (atau biasa disebut Wat Chiang Mun, วัดเชียงมั่น) terletak di sebelah timur laut Old City dan merupakan Wat tertua di Chiang Mai dan dibangun pada tahun 1297. Sejarah Wat Chiang Man erat kaitannya dengan berdirinya kota Chiang Mai itu sendiri. Dimana Wat Chiang Man merupakan salah satu bangunan awal dan Wat yang pertama dibangun saat King Mengrai bermaksud mendirikan ibukota baru dari Kingdom of Lanna menggantikan Chiang Rai. Dari Wat ini pula lah King Mengrai mengawasi pembangunan ibukota baru tersebut yang kelak menjadi kota Chiang Mai.
Kalau dilihat secara fisik, bangunan Wat Chiang Man nampak seperti Wat lainnya yang ada di Old City. Bahkan kalah megah dibanding Wat Chedi Luang dan Wat Phra Singh. Yang menjadikan Wat Chiang Man unik adalah dengan adanya sebuah Chedi dengan deretan 15 patung gajah di dasarnya yang sudah berwarna kehitaman. Itulah Chedi Chang Lom (Chang = gajah, dalam bahasa Thai). Chedi ini menjadi bangunan paling tua dan sekaligus simbol dari Wat Chiang Man.
![]() |
| Berfoto di depan Chedi Chang Lom |
Selain Chedi Chang Lom, Wat ini memiliki 2 "Viharn" berarsitektur khas Lanna yang akan sering kita jumpai pada Wat-wat yang ada di Chiang Mai. Tipikalnya adalah dengan atap yang disusun secara berundak (bisa 3 atau 2 undakan) dengan bagian muka yang penuh ornamen detail yang umumnya berwarna keemasan. Pokoknya unik dan beda dengan yang biasa dilihat di Bangkok. Bangunannya pun tampak lebih elegan dan hangat karena banyak menggunakan elemen kayu.
Bagian dalam Main Viharn didominasi warna merah dan berpusat pada sebuah "altar" dengan patung Buddha besar berwarna emas dan beberapa patung Buddha kecil lainnya. Sekeliling dinding di dalam Main Viharn dihiasi dengan lukisan mengenai cerita Buddha di dasar tembok berwarna merah. Pada bagian altar kita akan melihat juga patung Buddha yang sedang memegang sebuah pot yang berasal dari tahun 1465.
Untuk masuk Small Viharn kita akan disambut tangga dengan dua patung naga di sisinya. Small Viharn menyimpan cerita unik lain dengan adanya 2 patung Buddha yang berukuran kecil namun sangat terkenal. Patung itu adalah Phra Sae Tang Khamani (Crystal Buddha) yang dipercaya berasal dari abad ke-8; dan Phra Sila Buddha (Marble Buddha) yang berasal dari Srilanka yang berusia lebih dari 1000 tahun. Dua patung itu dipercaya memberi perlindungan bagi kota dan mendatangkan hujan.
| Small Viharn Wat Chiang Man |
| Small Viharn Wat Chiang Man |
| Interior Small Viharn |
| Pelataran samping dari Small Viharn Wat Chiang Man |
Wat Chiang Man terletak tak jauh dari Chang Puak Gate (salah satu dari 5 gerbang Old City of Chiang Mai). Buka setiap hari dari pukul 6 pagi sampai 5 sore dan bebas tiket masuk alias gratis.
| Chedi Chang Lom yang dihiasi oleh deretan patung gajah di dasarnya |
Related Articles :
Wat Prathat Doi Suthep, Chiang Mai
Rabu, 10 April 2013
Attractive Airline : Nok Air
Salah satu faktor pertimbangan penting bagiku dalam memilih suatu maskapai udara adalah harga. Memang keselamatan penting sih, namun saya lebih berpasrah ke pihak berwenang yang seharusnya telah memastikan agar setiap pesawat layak terbang, walau saat itu yang diperiksa adalah low-cost-airlines.
Berdasar faktor harga itulah aku terbiasa mengecek beberapa maskapai yang terkenal murah dan sering memberikan penawaran menarik. maskapai tersebut diantaranya Airasia, Tiger Airways dan Mandala Airlinesnya, Merpati Air, Cebu Pacific Air.
Pada tahun 2013 ini aku tidak terlalu banyak merancang acara liburan. Namun aku tergoda, semua berawal dari promo Mandala Airline yang memberikan free return ticket untuk tujuan Jakarta-Bangkok. Setelah berhasil mendapatkan tiket Jakarta-Bangkok, aku putar otak untuk mendapatkan tiket murah lainnya untuk menuju Chiang Mai, karena Chiang Mai lah sasaran utamaku pada trip ini. Beberapa maskapai ku cek untuk mendapat harga terekonomis penerbangan domestik antara Bangkok-Chiang Mai. Berawal dari itulah aku berkenalan dengan Nok Air, maskapai lokal Thailand yang menawarkan harga murah. Untuk penerbangan Bangkok_Chiang Mai kadang mereka memberikan tarif di bawah 1000 baht (300 ribu). Pas deh kalau begitu, ku melakukan reservasi walau sedikit kuatir dan mendapat tarif 1200 baht termasuk airport tax dan lain-lain.
Namun, pada saat hari penerbanganku aku cukup puas dengan pelayanan mereka. Mereka memberikan fasilitas free wifi di ruang tunggu airport yang dapat di log in dengan memasukan kode booking (lumayan bisa internetan sambil nunggu pesawat). Mereka juga menyediakan self check in via gadget dan internet dan kita bisa memilih seat sesuai yang kita mau dan FREE alias Gratis.
Saat menunggu di Don Mueang Airport, aku juga tak bisa duduk diam. Pesawat Nok Air yang berwarna-warni, kartun banget dan eye catching membuat aku sibuk memfoto-foto tiap pesawat Nok Air yang lewat, karena desainnya yang berbeda-beda.
Saat memasuki kabin sih yaa kesannya biasa saja karena ternyata interiornya jelas menunjukan bahwa ini pesawat lama. Tapi mereka memberikan free makanan dan minuman dalam penerbangan (lumayan lohh Auntie Anne Pretzel makanannya). Riuhnya bahasa Thai yang digunakan dalam pesawat membuat sensasi lain bahwa aku benar-benar ada di Thailand.
Aku sih cukup merekomendasikan maskapai ini bila kita ingin melakukan penerbangan domestik di Thailand. Nih Link menuju website mereka.
Oiya, aku tampilkan juga beberapa pesawat Nok Air yang sempat ku foto saat aku menunggu penerbangan menuju Chiang Mai. Unik ya!
Pada tahun 2013 ini aku tidak terlalu banyak merancang acara liburan. Namun aku tergoda, semua berawal dari promo Mandala Airline yang memberikan free return ticket untuk tujuan Jakarta-Bangkok. Setelah berhasil mendapatkan tiket Jakarta-Bangkok, aku putar otak untuk mendapatkan tiket murah lainnya untuk menuju Chiang Mai, karena Chiang Mai lah sasaran utamaku pada trip ini. Beberapa maskapai ku cek untuk mendapat harga terekonomis penerbangan domestik antara Bangkok-Chiang Mai. Berawal dari itulah aku berkenalan dengan Nok Air, maskapai lokal Thailand yang menawarkan harga murah. Untuk penerbangan Bangkok_Chiang Mai kadang mereka memberikan tarif di bawah 1000 baht (300 ribu). Pas deh kalau begitu, ku melakukan reservasi walau sedikit kuatir dan mendapat tarif 1200 baht termasuk airport tax dan lain-lain.
Namun, pada saat hari penerbanganku aku cukup puas dengan pelayanan mereka. Mereka memberikan fasilitas free wifi di ruang tunggu airport yang dapat di log in dengan memasukan kode booking (lumayan bisa internetan sambil nunggu pesawat). Mereka juga menyediakan self check in via gadget dan internet dan kita bisa memilih seat sesuai yang kita mau dan FREE alias Gratis.
Saat menunggu di Don Mueang Airport, aku juga tak bisa duduk diam. Pesawat Nok Air yang berwarna-warni, kartun banget dan eye catching membuat aku sibuk memfoto-foto tiap pesawat Nok Air yang lewat, karena desainnya yang berbeda-beda.
Saat memasuki kabin sih yaa kesannya biasa saja karena ternyata interiornya jelas menunjukan bahwa ini pesawat lama. Tapi mereka memberikan free makanan dan minuman dalam penerbangan (lumayan lohh Auntie Anne Pretzel makanannya). Riuhnya bahasa Thai yang digunakan dalam pesawat membuat sensasi lain bahwa aku benar-benar ada di Thailand.
Aku sih cukup merekomendasikan maskapai ini bila kita ingin melakukan penerbangan domestik di Thailand. Nih Link menuju website mereka.
Oiya, aku tampilkan juga beberapa pesawat Nok Air yang sempat ku foto saat aku menunggu penerbangan menuju Chiang Mai. Unik ya!
| Don Mueang International Airport of Bangkok (DMK) |
| My Boarding Pass |
Related Articles :
Free Shuttle Bus antara Suvarnabhumi dan Don Mueang Airport
Phuket, Bangkok atau Chiang Mai ?
Street Food ala Bangkok
Selasa, 02 April 2013
South East Asia Noodles
Inilah beragam jenis hidangan berbahan dasar mie yang berasal dari Asia Tenggara yang pernah mampir di perutku.
Related Articles :
Brunei Cuisines : Ambuyat, Nasi Katok
Indonesia Cuisines : Manado Cuisine, Kawok, Ayam Betutu, Papeda
Thailand Cuisines : Bangkok Street Food, Khao Neeo Mamuang
Vietnam Cuisines : Nom Bo Kho and Pho
My South East Asia Tour on February 2012 (Brunei, Indonesia, Singapore, Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia)
| Curry Noodle ala Penang Malaysia, enak nih yang ini |
| Pad Thai, dari namanya sudah ketahuan darimana asalnya |
| Thailand : Sukothai Style Noodle Soup with BBQ Pork |
| "Pho", Bakalan sering ketemu kalau kita ke Vietnam |
| Mee Mamak ala Brunei, rasanya legit asam manis dan lezat |
| Kolo Mee ala Brunei, seingatku rasanya cukup standar |
![]() |
| Dari Kamboja Mie Instant ala Kamboja hahaha, Sori kayaknya nggak makan Mie pas di Kamboja |
![]() |
| Laos style noodle. Mie nya pipih ala kuetiau tapi lebih lembut dan kuahnya ber terasi |
| Mie Ala Laos lainnya yang kumakan di Donsao Island, Golden Triangle |
| Mie Kepiting ala Pontianak, Yummy |
![]() |
| Semangkuk Mie Kepiting khas Pontianak yang rasanya superrr |
| ||
| Mie Cakalang ala Manado, paling pas dimakan pakai sambal Ikan Roa... rasanya mantap banget |
| Mie Ongklok ala Wonosobo-Dieng. Rasanya manis dengan kuah kental dan pas dimakan dengan sate |
![]() |
| Cui Mie Malang yang rasanya MANTAP abis |
| Singaporean Laksa, Yummy |
| Asam Laksa ala Penang dan Ais Kachang (alias Es Kacang) |
| Fried Wonton Noodles and Soup Wonton Noodles ala Penang, Malaysia |
| The legend one of Penang Cuisine : Char Koay Teow |
| Hokkien Noodle ala Penang |
| Bersama Mie Kari ala Penang dan segelas teh tarik. Mak nyuss! |
Related Articles :
Brunei Cuisines : Ambuyat, Nasi Katok
Indonesia Cuisines : Manado Cuisine, Kawok, Ayam Betutu, Papeda
Thailand Cuisines : Bangkok Street Food, Khao Neeo Mamuang
Vietnam Cuisines : Nom Bo Kho and Pho
My South East Asia Tour on February 2012 (Brunei, Indonesia, Singapore, Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia)
Lokasi:
South East Asia
Langganan:
Postingan (Atom)



















