Tampilkan postingan dengan label medical. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medical. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

A Psychotherapist's Prayer

Let not my mind be closed in arrogant certainty,
but rather be opened in surprise and wonder,
so that i may understand better.

That i may free my patient to use his own potential to realize his aspirations,
rather than dominate and patronize him 
and try to impose my values, my concerns, my thoughts, worthier than his and better for him.

May i be superior to my patient, first of all, in self knowledge and in the desire and skill to help.

D.B.L.



Doa Psikoterapis

Semoga akalku jangan ditutup oleh kepastian arogan, melainkan dibuka oleh keheranan dan kekaguman, supaya aku boleh mengerti lebih baik.

Agar aku bisa membebaskan pasienku menggunakan potensinya sendiri untuk merealisasi aspirasinya, daripada menguasai, mengatur  dan mengguruinya dan mencoba melimpahkan nilai-nilaiku kepada dirinya, sambil memandang nilai-nilaiku, urusanku dan pikiranku lebih layak daripada yang ada pada dia dan lebih baik baginya.

Semoga aku melebihi pasienku, pertama-tama, dalam mengenal diri dan keinginanku dan keterampilan menolong.

D.B.L.

Senin, 19 Agustus 2013

Sumpah Dokter


Demi Allah, saya bersumpah bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;

Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;

Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber­moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;

Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja­an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;

Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;

Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;

Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke­dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memper­taruhkan kehormatan diri saya.


Minggu, 19 Mei 2013

Kenali dan Waspadai Penyakit Para Traveller : DVT


Salah satu gangguan yang mengancam para traveller adalah Deep Vein Thrombosis (DVT) atau Trombosis Vena Dalam. Gangguan kesehatan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, namun resiko yang cukup tinggi didapat pada orang yang melakukan perjalanan jauh dengan posisi statis (misalnya perjalanan panjang lintas  benua  menggunakan pesawat)

Trombosis vena dalam (DVT) adalah gumpalan darah (juga disebut trombus) yang terbentuk pada vena dalam tubuh. Kebanyakan gumpalan vena dalam terjadi pada kaki bagian bawah atau paha tetapi dapat juga terjadi di bagian tubuh lainnya. Gumpalan ini mungkin mengganggu sirkulasi dan mungkin pecah dan berjalan melalui aliran darah dan berdiam di paru-paru, menyebabkan kerusakan parah pada organ tersebut. Jika gumpalan berdiam di paru-paru, disebut embolisasi paru-paru. Ini adalah kondisi sangat serius yang dapat mengakibatkan kematian. Gejala embolisasi paru-paru termasuk nyeri dada ketika menarik napas dalam, nadi cepat, pingsan, napas pendek dan muntah darah. Gumpalan darah yang tetap berdiam di kaki menyebabkan nyeri dan bengkak.

Penyebab
Resiko berkembangnya DVT termasuk duduk terlalu lama, istirahat tempat tidur, atau imobilitas (seperti perjalanan panjang di pesawat terbang atau mobil), operasi atau trauma terakhir (khususnya panggul, lutut atau operasi pada daerah panggul), retak, melahirkan dalam 6 bulan terakhir dan penggunaan obat-obatan seperti esterogen dan pil pengontrol kelahiran.

Gejala
Hanya sekitar setengah dari penderita dengan trombosis vena dalam memiliki gejala. Gejala termasuk:
• Kaki bengkak
• Nyeri pada kaki, biasanya satu kaki dan mungkin dirasakan saat berdiri atau berjalan
• Daerah kaki yang nyeri atau bengkak bertambah hangat
• Perubahan warna kulit atau kemerahan.

Ini adalah penting untuk pergi ke dokter segera jika Anda mengalami gejala trombosis vena dalam atau embolisasi paru. Trombosis vena dalam dapat menyebabkan komplikasi sangat serius jika tidak diobati.

Pencegahan
Jika Anda memiliki trombosis vena dalam sebelumnya, gumpalan di kemudian hari mungkin dicegah dengan:
  • Minum obat yang diresepkan dokter untuk mencegah atau mengobati gumpalan darah
  • Konsul ulang dengan dokter Anda untuk merubah obatan dan tes darah.
  • Jika bepergian lewat udara, bus atau kereta, jalan naik dan turun setiap beberapa jam.
  • Jika duduk, latih otot betis Anda dengan menarik jempol kaki Anda kearah lutut beberapa kali setiap jam.
  • Pertimbangkan untuk mengenakan stocking kompresi
  • Tetap minum air (hindari kafein dan alkohol) dan gunakan pakaian longgar.

Related Articles :

Jumat, 17 Agustus 2012

17 Agustus 2009

17 Agustus selalu diperingati menjadi hari yang istimewa di Indonesia. Bendera merah putih berbagai ukuran akan dikibarkan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. 17 Agustus juga selalu dirayakan di rumahku, karena mama ku berulang tahun tepat di tanggal tersebut.

Namun dari sekian banyak "17 Agustus" yang pernah kulewati, tahun 2009 adalah yang cukup berkesan karena aku merayakannya di atas sebuah kapal yang sedang terapung di tempat karena mesinnya rusak.

Pada saat itu, aku sedang menjalankan masa baktiku sebagai seorang dokter PTT di tempat yang sangat sungguh super terpencil. Puskesmas Longgar-Apara, Kecamatan Aru Tengah Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.

Mengapa kukatakan sangat sungguh super terpencil? Jawabannya adalah kerena aku harus melewati perjalanan selama 14-16 jam menggunakan perahu kayu hanya untuk mencapai ibukota kabupaten demi mencari sinyal handphone, berbelanja kebutuhan dapur bulanan dan memasukan laporan Puskesmas ke Dinas Kesehatan.

Dan pada 17 Agustus 2009, perjalanan yang 16 jam itu molor menjadi dua setengah hari karena kapal kayu yang kunaiki mengalami kerusakan mesin. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

Foto saat 17 Agustus 2009
15 Agustus
Mama Ho dan Ridwan sang pemilik Kapal bernama "Spirit" memberitahu aku bahwa besok kapal mereka akan kembali ke Apara setelah selasai berbelanja di Dobo.

Mama Ho adalah salah satu pedagang Tionghoa yang memiliki toko kelontong serba ada di Apara. Keluarga mereka sudah layaknya seperti kerabat dan orang tua bagiku saat aku ber PTT. Mereka sangat membantuku dalam melewati hari-hari PTT ku yang kering keras namun berkesan.

Hari itu aku pun sibuk berbelanja. Perjalanan ke Puskesmas yang memakan waktu hampir seharian membuat aku hanya mengunjungi kota sekitar 1 bulan sekali.

Aku berbelanja bersama teman-teman di rumah dinas dokter di kota Dobo. Beras, minyak tanah,  minyak goreng, kacang hijau, mie instant, kerupuk udang, makanan kaleng, bawang dan segala teman-teman dapurnya kubeli untuk membuat hidupku selama 1 bulan ke depan terhindar dari kelaparan. Manajemen keuangan ala ibu rumah tangga dalam berbelanja ke pasar kupelajari saat itu :)

Baju-baju sudah kukemas rapi hari itu agar aku siap berangkat besok. Barang belanjaan dan ransum sebulan telah kutaruh di dalam kapal "Spirit" agar esok hari aku tidak terlalu kerepotan membawa banyak barang dari rumah dinas dokter di kota Dobo menuju tempat kapal bersandar. Hari itu berakhir dengan baik.


16 Agustus

Seingatku "Spirit" berangkat cukup pagi saat itu. Jika kita menggunakan kapal, kita tidak bisa sembarangan berangkat sekehendak hati. Pasang surut air laut harus diperhatikan beserta arus laut. Jika tidak, bisa jadi kapal malah terkandas di darat.

Jika anda bertanya : "berapa jumlah uang yang harus dibayar untuk perjalanan dari Dobo ke Apara selama 16 jam?" Jawabannya adalah tidak sepeser pun. Mungkin anda terkejut, namun itu kenyataannya.

Kepulauan Aru adalah Kabupaten dengan 700 pulau-pulau yang tersebar. Namun ironisnya tidak didukung oleh sarana transportasi laut yang baik. Yang ada hanyalah : carter speedboat/kapal yang mahal namun cepat sampai; Atau menumpang pada kapal pedagang dengan jadwal yang tidak jelas namun gratis. Beberapa kampung menerapkan gratis, namun peraturan di kampung lain di Aru mungkin berbeda, dimana kita harus membayar 20-30 ribu sebagai pengganti uang minyak (tetap saja ekonomis bukan?)

Peta Kabupaten Kepulauan Aru
Spirit cukup sarat penumpang kali itu. Selain membawa barang dagangan dari pemilik kapal, kapal ini juga sarat ditumpangi orang-orang yang hendak kembali dari Dobo menuju Apara.
Nampak di antara penumpang itu Pak Camat Aru Tengah Selatan yang patut dikategorikan sebagai "... langka" karena jarang sekali hadir di desa kami, walau kantor kecamatan jelas berdiri tegak di desa Longgar-Apara. Pak Camat nampaknya lebih betah tinggal di kota daripada di kantor. Namun 17 Agustus membuat ia harus kembali ke Longgar-Apara untuk menjadi inspektur upacara, difoto, membuat Surat Perintah Perjalanan Dinas dan kembali ke kota secepatnya. Mental dan dedikasi yang tidak pantas dijadikan teladan.

Bila menghitung lama perjalanan, maka seharusnya Spirit yang berangkat pagi ini akan tiba tepat tengah malam di Apara. Angin dan ombak seperti biasa selalu setia menemani perjalanan kami dari Dobo sampai ke Benjina. Selanjutnya kami memasuki selat sempit yang nampak seperti sungai. Tipuan mata memang, karena walau sempit, namun airnya asin dan melintang membelah kepulauan Aru dari barat ke timur sebanyak 3 kali (Sungai Manumbai, Sungai Workai dan Sungai Maekor yang ketiganya berair asin).

Perjalanan laut selama itu memang mengandung banyak rintangan. Perbandingannya hampir 1:1 antara lancar dan terhambat. Kadang kapal terkandas, kadang arus sungai terlalu kencang, kadang mesin rusak dan macam-macam alasan lain. Kali ini mesin utama kapal MATI total di perairan antara Lorang dan Manjau. Umumnya mekanik jadi-jadian akan bermunculan dari para penumpang kapal dan perjalanan bisa dilanjutkan. Namun kali ini kami memerlukan spare part yang rusak.
Pertanyaannya adalah : Dimana kami dapat membelinya di tengah selat ini?

Kami terapung tak jelas dan membuang jangkar. Berharap kapal lain yang juga lewat di jalan yang sama bisa meminjamkan spare part nya. Hukum Laut tak tertulis biasanya dipatuhi di tempat ini. Hukum itu berbunyi : "tolonglah orang yang sedang kesulitan di laut sedapat mungkin". Kadang spare part atau apapun bisa diberikan cuma-cuma bila kita berpapasan dengan kapal lain yang mengalami kesulitan.

Sampai matahari terbenam, spirit tak beranjak dari tempatnya membuang jangkar. Kapal lain yang lalu lalang juga cukup jarang dan tidak ada yang membawa cadangan benda yang kita inginkan. Menepi ke daratan akan membuat masalah baru, karena kami dikepung rawa, dan akan sangat berbahaya jika kapal menjadi miring akibat kandas dan waspada serangan buaya sepanjang rawa. Jadilah kami menghabiskan malam yang tenang hari itu. tidur bertabur bintang dalam keheningan malam tanpa secuil suara apapun. Hari itu berakhir dengan kurang baik.

17 Agustus
Pagi hari, 17 Agustus telah tiba. Pak Camat yang seharusnya menjadi inspektur upacara masih bergelung dalam sarungnya dan terapung di selat sempit.

Semua mulai menggeliat berusaha mencari sesuatu yang bisa menghangatkan perut. Dari bagian belakang kapal terdengar berita tak sedap. Karena panci satu-satunya di kapal ini bocor. Bocornya  pun tepat di tengah panci sebesar jarum. Air akan menetes bila kita mulai memasak air dan dapat membuat api di kompor padam.

Dan pertandingan 17 Agustus level 1 pun dimulai. Kami bertanding adu cepat antara kompor mati atau air mendidih terlebih dahulu saar memasak air :) . Hasil pertandingan itu tidak dimenangkan siapa pun. Air setengah hangat pun diangkat untuk membuat kopi, Keputusan yang tepat saat itu.

Stok makanan mulai menipis, kami tidak menyiapkan cukup bekal makanan dan air untuk bermalam. Tuntutan perut yang berteriak kelaparan memaksa kami melanjutkan pertandingan ke Level 2 : "memasak mie instan menggunakan panci berlubang". Untunglah kami menumpang kapal pedagang yang berisi banyak dagangan berupa bahan makanan, beras, mie instant dan air. Kami hanya perlu mengeluarkan uang dan memembelinya walau di atsa kapal Spirit.

Seolah tak cukup kenyang, pertandingan level 3 dimulai. "Kami mulai memasak nasi dengan panci bocor itu". Sungguh konyol memang bagaimana kami berusaha saat itu untuk menghindari tetesan air dari panci memadamkan api kompor. Hasil kembali berakhir imbang, saat nasi mulai menjadi bubur, kami putuskan untuk berhenti dan mulai membawa segala hasil masakan kami untuk dibagi rata.

Masalah baru muncul : mana piring dan sendoknya???
Nampaknya laut telah membuat manusia menjadi kreatif. Lingkungan yang serba terbatas di laut membuat ide-ide aneh dan cemerlang muncul. Kami membelah botol air mineral 1,5 liter menjadi dua. itulah piring kami. dan tutup botolnya menjadi sendoknya. Sangat kocak memang. Namun tak sia-sia. Kami berhasil menyantap "bubur mie" tersedap di selat Aru dengan sukses. Bon apetite!

Bon Apetite!
Bubur Mie ala Selat Aru
Setelah masalah perut teratasi kami mulai memandangi bendera merah putih di tiang tengah kapal kayu sambil berandai-andai mengikuti upacara. Itulah yang menyebabkan 17 Agustus 2009 menjadi berkesan bagiku. Memandang bendera merah putih lusuh di tiang kapal dan menyadari bahwa saat itu aku sedang mengabdi menjadi dokter di wilayah terpencil di Maluku membuatku bangga dapat memberi sesuatu untuk Maluku dan Indonesia.

Matahari beranjak naik ke atas. Sarung yang semalam berfungsi menjadi selimut penghangat kali ini berfungsi sebagai payung peneduh dan tenda untuk melindungi kulit dari sunburn. Umumnya Sunburn tak pernah absen bila aku melakukan perjalanan dari Dobo ke Longgar-Apara dan sebaliknya. Perlu sunblok dengan SPF 1000 (sayangnya sunblock ku cuma SPF 30) untuk mengindari sunburn di perjalanan yang panjang dengan kapal kayu di bawah matahari terik.

Spirit nampaknya sedang merajuk hari itu. Masih belum ada kemajuan berarti walau mekanik dan Ridwan sang pemilik kapal telah semalaman bermandi oli untuk membetulkan kapal. Beberapa kapal yang lewat menawarkan bantuan untuk menarik spirit ke desa terdekat, namun ukuran spirit yang cukup besar membuat tak bisa sembarangan kapal bisa menariknya.

Titik harapan muncul saat sebuah kapal besar dari Desa Lorang muncul. Hukum laut pun berjalan kembali. Mereka tanpa segan menanyakan masalah kami dan mulai mecoba memperbaiki. Hasilnya sama, nihil, spare part tetap diperlukan. Namun mereka bersedia menarik kapal kami ke desa Lorang untuk mencoba mencari spare part tersebut dan mengisi stok air bersih kami.

Kami singgah di Lorang sore hari, sebuah desa kecil dengan penduduk tak sampai 200 jiwa. Aku kurang beruntung karena temanku yang bertugas di Puskesmas Lorang sedang melakukan Puskesmas Keliling dan pintu Puskesmas tertutup rapat. Aku tidur di dermaga Lorang malam itu, di sebuah kapal yang sedang bersandar disana sambil ditemani gerimis. senaja ku tidak menyingkir ke dalam, karena ingin menikmati setiap titik air hujan jatuh ke kulitku dan akhirnya ku tertidur. Hari itu berakhir dengan sedikit baik.

Selat sempit tempat kami terapung
18 Agustus 
Spare part kapal yang diperlukan tidak kami temukan di Lorang. Namun mesin kapal sudah menyala dan kami dapat melanjutkan perjalanan yang baru setengah jalan dari Dobo ke Longgar-Apara. Tak ada jaminan bahwa mesin tak akan mati lagi, namun rasa ingin cepat sampai di rumah memaksa semua orang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Seingatku mesin kapal mati 2 kali lagi, namun masih bisa diperbaiki setelah berhenti beberapa jam. Kami juga berhenti di Desa Koba Sel Timur untuk mencoba mencari spare part karena ada sebuah toko disana.

Rasa letih, badan yang terasa lengket, muka yang mulai berminyak membuat ingin rasanya segera sampai, mandi, keramas dan tidur tanpa diganggu. dan keinginan itu terkabul. Tanggal 18 sore hari kami merapat di Apara dengan disambut banyak pertanyaan karena kami terlampau lambat sampai dan membuat banyak orang kuatir.

Tibalah aku di Puskesmas ku, Puskesmas Longgar-Apara.  Aku tinggal disana di sebuah kamar ditemani 3 ekor anjing yang menemaniku. Molly, Miki dan Tira yang menyambutku. Segera kuminta seorang warga untuk mengisi air bak di kamar mandi ku, dan tanpa diminta beberapa orang mengirimkan makanan ke Puskesmas, karena tau dokternya masak sendiri dan nampaknya terlalu lelah untuk masak menunggu masakan matang. Mandi, keramas, makan segera kulakukan tanpa perintah. Selanjutnya kunyalakan pelita dan memasak air untuk minum.

Pelita dan menimba air adalah sesuatu yang tak asing saat ku bertugas di Longgar-Apara. Walau statusnya sebagai ibukota kecamatan, namun kami miskin fasilitas. Tak ada air PAM, tak ada listrik PLN bahkan sinyal TELKOMSEL pun tak muncul disana walau anda memanjat pohon kelapa tertinggi disana.  Tower sinyal hanya ada di Dobo yang 14 jam perjalanan laut jauhnya dari sini (3 hari pada trip kali ini hehehe).

Matahari mulai tenggelam dan lampu pelita mulai menerangi kamarku. Molly beserta anaknya miki dan tira kupaksa tidur lebih cepat kali ini dan rasanya nyaman sekali membaringkan badan di kaur busaku hari itu. Hari itu berakhir dengan sempurna.

Jalanan menuju Puskesmasku yang terletak di ujung kampung

Bersama keluarga Bapak Ho. Keluarga baruku selama aku PTT di Longgar-Apara

Puskesmas Longgar-Apara
Puskesmas Longgar-Apara
Related Articles :
Longgar dan Apara -2 Desa di Tepian Indonesia
A Journey Through Aru Islands
Indonesia, the Islands Nation

Rabu, 23 Mei 2012

10 Tips Mencegah Mabuk Laut (Seasickness)


"Mal de Mer" adalah istilah dalam bahasa Perancis untuk mabuk laut. 

Gangguan ini kadang menyebabkan sebagian orang enggan untuk menggunakan kapal dalam perjalanannya. Memang sangat tidak nyaman melakukan perjalanan dengan sensasi terayun-ayun hingga pusing disertai perut yang terasa seperti teraduk-aduk. Puncak dari semua itu adalah perasaan mual hingga muntah. dan yang lebih buruknya lagi, muntah tersebut dapat berulang-ulang sehingga dapat menimbulkan sensasi sangat nyeri di perut dan dehidrasi.

Walau jarang mengancam nyawa, namun masalah ini dapat menyebabkan kita tidak dapat menikmati pelayaran kita. Tidur adalah sesuatu yang diharapkan segera terjadi saat mabuk laut agar sensasi terombang-ambing tersebut hilang.

Berikut beberapa tips yang dapat dipergunakan untuk mencegah mabuk laut :

1. Persiapkan perjalanan anda
Cukupkan istirahat anda sebelum melakukan perjalanan laut. Kondisi fisik yang prima akan banyak berperan untuk mencegah mabuk laut.

2. Pilihlah tempat duduk yang tepat
Posisi duduk yang menghadap ke depan sesuai gerakan kapal akan membuat anda kurang merasakan pusing dibanding duduk menyamping atau melawan gerakan kapal.

3. Cari tempat dengan sirkulasi udara yang baik
Lagi-lagi pemilihan tempat cukup berpengaruh. Duduk ditempat dengan udara segar dan ventilasi baik akan membuat anda lebih dapat bertahan menghadapi ancaman mabuk laut. Hindari ruangan tertutup dengan bau menyengat (bau asap rokok, bau bahan bakar, bau parfum yang kuat dan lain-lain)

4. Perhatikan tatapan mata anda
Menatap terfokus pada suatu objek kecil (misal ; mambaca, ber SMS) akan membuat sensasi goyangan kapal lebih terasa dan membuat anda semakin rawan terkena mabuk laut. Sebaliknya, tataplah objek yang tak bergerak dan memberi sensasi lapang (Langit, Horizon) dapat menghambat mata anda memberikan sinyal emergency untuk mabuk ke otak anda.

5. Hati-hati dengan apa yang anda makan
Makan terlalu kenyang sebelum perjalanan laut dan memakan banyak makanan berlemak akan mempermudah kita untuk mabuk laut. Siasatilah dengan makan buah atau sayur dalam porsi cukup sebelum perjalanan. Meminum air putih dalam jumlah cukup juga dapat membantu. 

6. Alihkan perhatian anda
Jangan terlalu berfokus pada goyangan dan perasaan pusing dan mual yang anda alami saat itu. Namun alihkan dengan misalnya mendengar musik, ngobrol, melihat-lihat pemandangan.

7. Hindari minuman beralkohol
Mabuk akibat alkohol akan memberikaan efek buruk ganda. Mata, telinga dan alat keseimbangan kita akan semakin kacau balau menerima sensasi gerak bila kita berlayar dalam kondisi mabuk. Efeknya terhadap mabuk laut pun sudah dapat ditebak.

8. Siapkan makanan kecil
Memakan snack ringan yang tidak terlalu berbumbu (seperti biskuit) dalam porsi sedikit namun sering dapat mencegah anda cepat mual. Meminum air putih dalam jumlah cukup akan membuatnya lebih baik lagi.

9. Gunakan bahan herbal
Jahe telah lama dipercaya khasiatnya untuk mencagah mual. Meminum secangkir air jahe hangat atau menghisap permen jahe akan membuat tubuh lebih relaks. Kandungan bahan alaminya tidak menimbulkan efek samping obat antimabuk pada umumnya, yaitu mengantuk. Sehingga kita tetap bebas mual dan bebas menikmati pelayaran kita tanpa sensasi mabuk laut.

10. Gunakan obat-obatan untuk mencegah mabuk laut
Ini adalah cara terakhir yang cukup ampuh untuk mencegah mabuk laut. Siapkanlah selalu obat anti mabuk, terutama bila anda juga mudah mengalami pusing saat mengendarai mobil. Obat anti mabuk umumnya mengandung Dimenhydrinate (merk dagangnya : Antimo atau Dramamine). Minumlah setengah sampai satu jam sebelum anda melakukan perjalanan.

Obat ini memiliki efek samping mengantuk, sehingga pilihlah sebagai pilihan terakhir agar anda tidak tertidur di saat anda seharusnya menikmati berwisata dengan perahu.

Related Articles :

Selasa, 29 November 2011

A Journey Through Aru Islands




Pantai Longgar
Kepulauan Aru, dari namanya kita bisa sedikit membayangkan betapa laut berkuasa disana dan menjadi akses penting dalam sistem transportasi disana. Ada lebih dari 700 pulau besar kecil di kabupaten ini dengan 119 desa tersebar di pulau-pulaunya. Kalau dilihat di peta, mayoritas pulau-pulau tersebut tampak berkumpul menjadi satu dan hanya dipisahkan oleh sungai-sungai sempit yang membelah dari barat ke timur. Kenyataannya itu bukan sungai, namun selat karena celah itu berisi air asin dengan hamparan bakau sepanjang aliran sungainya. Mayoritas desa-desa di Aru terletak di tepi laut atau selat tersebut dan membuat kapal dan speedboat menjadi alat transportasi utama di Kabupaten ini.

Kota Dobo terletak di Pulau Wamar (sebuah pulau kecil di utara Aru).
Aku bertugas selama 1,5 tahun sebagai dokter Puskesmas Longgar-Apara terletak di Desa Longgar yang berada di Pulau Workai di tenggara Aru. Apara adalah desa tetangga Longgar. Letaknya yang bersebelahan  membuat kedua desa ini selalu disebut bersamaan : Longgar-Apara. Perlu berjalanan selama 14 jam dari Dobo untuk mencapai Longgar. 



Perjalanan dari Dobo menuju desa Longgar-Apara bukanlah sesuatu yang singkat dan menyenangkan. Perjalanan kadang memakan waktu sekitar 14 jam menggunakan perahu kayu dan kadang diselingi dengan bermalam di tengah-tengah perjalanan apabila perahu kandas dalam perjalanan melewati selat sempit antar pulau atau terjadi kerusakan mesin.

Perjalanan akan diawali dengan rute Dobo-Benjina selama 3 jam. Benjina adalah "Kota" terbesar kedua di Aru, terletak di Muara Sungai (Selat) dan merupakan tempat kapal-kapal pencari ikan bersandar. Rute pertama ini cukup berbahaya untuk dilewati saat angin barat bertiup (Desember-Maret). Ombak di daerah  ini terkenal sering memakan korban bila sedang musimnya, namun akan teduh dan menyenangkan saat angin Timur bertiup (Mei-Oktober). 

Patung Yos Sudarso di Dobo
Pesisir sebelah barat Kepulauan Aru berkarakteristik pantai berpasir putih. Berbeda hal nya dengan pesisir timur dan bagian tengah yang umumnya berawa-rawa. Selama 3 jam perjalanan dari Dobo ke Benjina kita akan melihat desa-desa berpasir putih tersebar di pesisir pantai barat Aru dan Pulau Babi yang menjadi titik menyendiri yang muncul di tengah laut dan menjadi acuan navigasi. 
Lobster, Salah satu hasil laut dari Desa Tabarfane di Pesisir Barat Aru
Pantai Pulau Babi
Pulau Babi
Setelah melewati Benjina pemandangan akan berubah. Hamparan hutan bakau berderet bagai sabuk yang tak terputus sampai kita keluar di muara selat di sisi lainnya di daerah Koba. Perjalanan selama kurang lebih 6 jam membelah pulau disuguhi dengan hijaunya hutan bakau, pulau-pulau kecil di tengah sungai, buaya yang sedang berjemur di batu.  Hutan Bakau dan Hutan di Aru menjadi rumah bagi Rusa, Babi Hutan, Kasuari, Kanguru, Ayam hutan dan beragam burung dengan cendrawasih sebagai primadona nya.
Burung Cendrawasih
Dari tampilannya secara fisik, selat-selat ini memang menyerupai sungai. Namun air di celah ini asin. Ada 4 selat sempit utama di Aru dan semuanya membelah sempurna menghubungkan sisi barat dan timur Aru. 4 Selat itu adalah Sungai Kola di daerah utara, Sungai Manumbai (yang terpanjang), Sungai Workai (sungai yang kulalui untuk menuju Longgar-Apara) dan Sungai Maekor. Ada juga sungai Lorang yang menghubungkan Sungai Maekor dan Workai.

Gereja di Desa Lorang
Selat-selat sempit ini menjadi suatu kekhasan bagi Aru dan menjadi solusi untuk menghubungkan pesisir barat dan timur. Selat ini berarus dan memerlukan pangemudi yang handal untuk bisa lolos dari jebakan seperti kandas, menghindar dari batu besar di dasar sungai dan tersesat. Dari Benjina kita akan melewati Batu Bendera (salah satu titik acuan navigasi) dan desa-desa sepanjang aliran sungai seperti Wardakau, Lorang, Manjau, Kwarbola, Murai, Ponom dan lainnya. Keseluruhan desa tersebut terletak di tepi Sungai Workai. Bila telah melewati Ponom, maka selat sempit tersebut akan melebar dan pulau-pulau di bagian tenggara Aru yang berhambur mulai bisa terlihat karena kita telah berada di pesisir timur Kepulauan Aru. 

Desa-desa di muara sungai Workai bagian Timur merupakan desa penghasil udang (desa Ponom, Wailay, Kaiwabar, Kwarbola, Murai, dll). Pada bulan-bulan tertentu udang akan melimpah ruah memenuhi sungai ini. Hal ini wajar mengingat masih terjaganya hutan bakau sepanjang sungai yang berfungsi sebagai tempat udang berkembang biak. Udang Tiger dan jenis lainnya dapat diperoleh dengan mudah tanpa ditambak. Stok yang melimpah membuat Dobo kebanjiran udang kering ukuran besar pada waktu-waktu tertentu.

Setelah melewati muara sungai, perjalanan dilanjutkan ke Arah Koba. Perahu akan melewati celah sempit serupa gerbang dengan dua desa berhadapan : Desa Kobadangar dan Koba Seltimur. Dari kejauhan kita bisa melihat menara gereja di Koba Seltimur berhadapan dengan kubah Mesjid di Kobadangar. Banyak peternakan rumput laut disini. harus hati-hati jika melewati daerah ini agar baling-baling kapal tidak memotong tali pengikat rumput laut.

Kobadangar terletak di Pulau Baun. Terdapat area konservasi di Pulau Baun untuk melindungi burung-burung cendrawasih dan hewan-hewan liar agar tetap terjaga dan seimbang.  Cendrawasih di Aru terkenal dengan warna bulu ekornya yang kuning cerah dan konon lebih cantik tampilannya daripaada Cendrawasih di Papua. Cendrawasih ini digunakan sebagai hiasan kepala pada upacara-upacara adat dan penyambutan tamu kehormatan. Sayang memang, burung cantik yang dilindungi ini memang masih terus diburu.

Setelah melewati Koba kita akan melihat Pulau Workai. Ada 4 Desa di Pulau Workai ini yaitu Mesiang, Longgar, Apara dan Bemun (3 desa terakhir merupakan wilayah kerja Puskesmasku). Longgar, Apara dan Bemun terletak di Selatan Pulau Workai, Sedang Mesiang terletak berhadapan dengan Gomo-gomo di Utara Pulau Workai. Mesiang memiliki Puskesmas sendiri, namun aku cukup sering mengunjunginya karena teman dekatku yang bertugas disana.


Puskesmas Mesiang
UKS di Desa Bemun
Puskesmas Longgar-Apara
Longgar dan Apara berdiri di tepi tebing-tebing karang berwarna putih, Longgar-Apara merupakan Desa terbesar di Wilayah Selatan Aru dan merupakan kota dagang bagi wilayah sekitar. Rumput laut, sirip hiu, teripang, mutiara, ikan segar, Kopra, merupakan penggerak roda perekonomian disini. Pada musim tertentu, nelayan dari Karey dan Gomar datang ke Longgar untuk membawa Abalone  (sejenis tiram yang bernilai ekonomis tinggi)
Kerang Mutiara, salah satu hasil laut andalan Longgar-Apara
Foto Bersama ibu Kader Posyandu Desa Longgar di Depan Puskesmas
Selain sebagai pusat perdagangan, desa dengan penduduk 3000an jiwa ini (Longgar dan Apara) merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Aru Tengah Selatan. Terdapat 1 SMP, 2 SD di desa ini, 1 Puskesmas Rawat Jalan, 2 Gereja dan 2 Mesjid di Longgar dan Apara. Mendengar nama kedua desa ini sangat berarti bagiku, karena selama menjadi dokter disana aku belajar banyak tentang Manajemen Kesehatan (karena aku menjadi kepala Puskesmas disana), Ilmu medis, persahabatan dan belajar tentang kehidupan.


Desa Apara
Related Article :
Longgar & Apara ; 2 desa di tepian Indonesia
Salarem, Grand Canyon nya Maluku
17 Agustus 2009
Hymn to the Sea and Sky

Senin, 31 Oktober 2011

Outreach Eye's Cases : Siding, Kalimantan Barat





Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat
Masalah perbatasan Indonesia-Malaysia kembali mengemuka. Kali ini perbatasan antara Sambas (Kalbar) dan Serawak yang menjadi sengketa. Aku ingin bercerita dari sudut pandangku bagaimana kondisi daerah -daerah perbatasan bedasar kunjunganku ke salah satu desa yang berbatasan wilayah dengan Malaysia di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat pada tahun 2010. Kunjungan tersebut dalam rangka Outreach Eye's Cases dokter-dokter spesialis mata dari RS Bethesda Serukam, Kalimantan Barat.

Siding desa yang terletak di Kabupaten Bengkayang, akan menjadi target sasaran pelayanan kami. Tim kami membekali diri dengan peralatan pemeriksaan mata portable, portable slit lamp, puluhan kacamata gratis dengan berbagai ukuran, 2 dokter spesialis mata, 2 dokter umum yaitu aku dan dr. Susi yang bertugas sebagai dokter PTT di Siding, serta beberapa perawat dari Klinik Mata RS Bethesda.

Perjalanan menuju Siding tidaklah mudah, kami memulai perjalanan dengan naik mobil menuju Bengkayang. Kami melewati daerah perbukitan dengan kondisi jalan yang naik turun meliuk dengan naungan hutan yang lebat Kalimantan. Setiba di kota Bengkayang kami membeli perbekalan karena kami akan menginap beberapa hari di Siding. Kota Bengkayang tidaklah terlalu besar. didominasi oleh pasar yang dikelilingi bangunan kuno serta sebuah klenteng.

Perjalanan nasih berlanjut terus ke utara, setelah kami mencapai Sanggauledo perjalanan menjadi semakin menantang. Aspal yang tadinya masih selapis tipis kali ini "punah" diganti tanah merah becek. Kadang ditempatkan batu-batu besar di tengah jalan untuk mencegah timbulnya kubangan. Total perjalanan dari Bengkayang sampai Seluas ditempuh dalam 3-4 jam.

Seluas merupakan kota kecamatan, terletak di tepian sungai dimana terdapat jembatan menuju  Jagoibabang  (Salah satu pintu perbatasan Indonesia-Malaysia) yang katanya sudah tidak terlalu jauh lagi. Namun kami tidak melintas melewati jembatan tersebut melainkan menyusuri sungai dengan perahu motor menuju ke hulu sungai selama 3 jam menuju desa Siding. Sungguh mengenaskan bukan nasib daerah "etalase" negara kita.
Kota Bengkayang

Seluas

Siding bukan satu-satunya desa yang sulit diakses. ada beberapa desa lagi yang akses nya melalui sungai tersebut. bahkan ada beberapa desa yang hanya bisa diakses dengan bejalan kaki atau jalur udara (menggunakan pesawat perintis dan mendarat darurat)

Sepanjang perjalanan sungai menuju Siding kami disuguhi dengan hutan hujan tropis alami -One of the Heart of Borneo was here- Rimbunnya hutan, tumbuhan paku raksasa dan rumpun pakis di sepanjang alirannya yang coklat menjadi daya tarik tersendiri.

Unforgetable Night Cruise with Yuli, Kak Iin, Dewi & Baban
[[ Pada kunjungan lainnya ke Siding, aku melewati sungai ini malam hari. Ya! MALAM hari, kami berangkat jam 6 sore dan tiba pukul 21.30. Kunang-kunang kadang muncul selintas memberi penawar rasa cemas melewati pekatnya sungai rimba dengan hanya diterangi 2 buah cahaya senter. Kadang kami harus turun karena perahu kandas, kami harus mendorong perahu melawan arus sampai perahu tiba di daerah yang cukup dalam. Pada kunjungan kedua tersebut kami pergi berlima; Aku, seorang penduduk lokal dan 3 wanita -hahaha aku harus memastikan 3 wanita tersebut tidak lebih kuatir dari diriku malam itu melewati pekatnya sungai di rimba Borneo.]]



Journey to Siding

Terdapat beberapa perkampungan suku dayak di sepanjang aliran sungai tersebut. Kadang kami sesekali berpapasan dengan perahu penduduk lokal yang ingin menuju Seluas membawa hasil bumi. dan pada perjalanan kali ini kami kurang beruntung, hujan turun seolah ingin membuktikan bahwa kami berada di "kawasan Hutan HUJAN Tropis". aku salut dengan dr. Steve Anderson dan dr. Edy. Dua Spesialis mata dari RS Bethesda Serukam itu rela berbasah ria bahkan tersenyum menyambut hujan di perahu kecil. I'm proud of You Docs!

Siding merupakan sebuah desa ibukota Kecamatan, di desa tersebut terdapat Puskesmas dan pos tentara perbatasan. Aroma Malaysia berasa kental disana. mulai dari mata uang ringgit, beberapa barang made in Malaysia, tabung gas Petronas. Sebagian pemuda disini pun bekerja di Malaysia Timur. Malaysia dapat diraih dengan berjalan kaki karena letaknya hanya di balik gunung Anggas.
Ironis nya saat aku tanya apa ibukota Indonesia ke anak-anak yang sedang bermain; mereka hanya menggeleng. "Indonesia mereka hanya sebesar Siding, Tamong dan Seluas" (yang merupakan nama desa sekitar). Jangankan membayangkan kegemerlapan Jakarta, mendengar kata Pontianak pun mereka asing. Ironis!
Puskesmas Siding, Kab. Bengkayang
Malam itu kami istirahat di Puskesmas Siding. Gelap, tenang namun merdu karena suara serangga hutan mengiringi kami terlelap.
Esoknya Puskesmas kebanjiran pasien, mereka tampak antusias. Namun lain hal nya dengan pegawai Puskesmas yang seringkali alpa berminggu-minggu menjalankan tugas dengan alasan tempat tugas yang sangat terpencil, komunikasi yang sulit dan urusan keluarga. Memang dapat dipahami tapi tidak untuk dimaklumi.

Pasien disini sangat bervariasi, bahkan beberapa kasus yang sangat jarang ditemukan ada disini. mulai dari kasus kelainan refraksi, katarak sampai keganasan dan lainnya. Untungnya kami membawa stok kacamata gratis cukup banyak dan ada follow up dan screening bagi pasien katarak untuk dioperasi gratis di RS Bethesda, termasuk seorang gadis dengan kelainan kelopak mata yang akan dioperasi pula di Serukam. Namun ada rasa sedih juga saat kami harus memvonis seorang anak bahwa dia tidak akan dapat melihat dari sisi medis. Kontan sang ibu langsung menangis dan kami membantunya berdoa.

Pengalaman yang berkesan. Senang melihat teladan dari sejawat yang peduli terhadap orang lain di tengah sorotan masyarakat terhadap profesi dokter yang semakin tergadai dengan komersialisme.

Pengalaman yang berkesan pula dari sudut pandang : "Melihat rumput tetangga lebih hijau" karena ternyata memang itulah yang terjadi di tempat-tempat seperti Siding. Aku hanya bisa mengelus dada sambil protes, salah satunya dengan menulis artikel seperti ini berharap dapat terdengar oleh pak pejabat yang semoga selain bermulut manis namun ringan tangan dalam menjalankan tugasnya.




dr, Steve and dr. Edy in action

dr, Susi (dokter PTT Pkm. Siding), Me, dr. Steve

Masih terbayang-bayang rasa tumis pakis malam itu

Sungai di muka kampung Siding

Gunung Anggas, Siding, Kalimantan Barat

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...