Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Bukit Doa Tomohon, Wisata Religi di Kota Manado


Manado adalah salah satu kota di Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama Kristen. "Kota Nyiur Melambai" ini identik dengan Taman Laut Bunakennya yang indah dan kulinernya yang unik. Kota ini sangat layak untuk dijadikan pusat wisata di Indonesia Timur karena banyaknya objek wisata yang tersebar dan bervariasi jenisnya. Secara pribadi sih aku sangat merekomendasikan kota Manado untuk dikunjungi. 

Untuk wisata rohani, Manado memiliki beberapa objek wisata unik diantaranya ;
  • Bukit Kasih di Kanonang yang melambangkan kerukunan antar umat beragama di Sulawesi Utara
  • Patung Yesus Memberkati di kompleks perumahan Citraland Manado. Patung setinggi 30 meter ini menjadi salah satu patung Yesus tertinggi di Dunia. Uniknya lagi patung ini tampak melayang dengan kemiringan 20 derajat. Salut deh untuk arsiteknya.
  • Bukit doa di Tomohon
Patung Yesus Memberkati di Manado
Kali ini aku akan menulis tentang Bukit Doa di Tomohon. Tempat ini memiliki banyak sekali nama lain. Namun jangan terkecoh karena tempat yang dimaksud ya cuma satu ini. Nama lainnya antaranya Bukit Doa Manado, Bukit Doa Mahawu, Bukit Kelong, Jalan Salib Mahawu, yaaa pokoknya banyak deh.

Bukit doa ini terletak di Tomohon, kota pegunungan berhawa sejuk yang terletak tak jauh dari Manado. berjarak sekitar 30 kilometer dari Manado dan dapat diraih dengan berkendara selama 40 menit. Bukit doa ini tampil cantik karena banyaknya bunga yang ditanam disekitarnya (Tomohon dikenal sebagai Kota Bunga) dengan background Gunung Lokon (salah satu gunung berapi aktif di Manado).

Bukit Doa Tomohon
Kapel Mother Mary dengan Gunung Lokon sebagai background
Di Bukit doa ini kita bisa menemukan Kapel unik modern bernama Chapel of Mother Mary. Kapel ini biasa dijadikan tempat foto prewedding berkat bentuknya yang unik. Saat aku berkunjung, terdapat sepasang pengantin yang tengah melangsungkan pemberkatan nikah disana.

Bangunan unik lainnya adalah Amphitheatre yang cukup besar dengan kapasitas sekitar 1500 orang. Amphiteater ini nampaknya sangat rekomended bila dipakai sebagai tempat kotbah outdor, untuk kegiatan gathering, pertunjukan seni atau retreat Kristiani.

Amphitheatre di Bukit Doa Tomohon
Tempat lain yang tak mungkin anda lewatkan adalah jalan salib (tempat ini juga dikenal sebagai Jalan Salib Mahawu). Inilah alasan sebagian orang terutama yang beragama Katolik untuk mengunjungi tempat ini. Jalan salib di Bukit Doa Tomohon cukup ramah bagi segala usia dengan rute yang tidak terlalu menantang fisik seperti kebanyakan rute jalan salib di tempat lain. Banyak patung tersebar di perhentian-perhentian Jalan Salib. Namun yang paling eye catching adalah patung Pieta; patung klasik yang menggambarkan tubuh Yesus yang telah wafat di pangkuan Bunda Maria.

Jalan Salib Mahawu, Tomohon - Manado
Patung Pieta di Bukit Doa Tomohon, Manado
Rute Jalan Salib berakhir di sebuah gua Maria yang cukup besar dengan banyak peziarah yang berdoa di depannya. Susunan dari Bukit Doa Tomohon memang menyerupai situs jalan salib di lokasi lainnya.

Taman di Sekitar Bukit Doa Tomohon yang tampang terawat baik
Gua Maria di Bukit Doa Tomohon

Tidak ada biaya masuk untuk mengunjungi Bukit Doa Tomohon, Namun tersedia kotak sumbangan bila anda tergerak untuk memberikan donasi untuk pemeliharaan tempat ini. Bagi anda yang membawa kendaraan sendiri tempat ini cukup mudah dicari dengan rambu petunjuk yang jelas. Bahkan kalau pun nyasar tak perlu kuatir karena tempat ini sangat terkenal di Tomohon.

Lokasi yang bersih, indah, tenang, dengan banyaknya bangunan unik dan akses yang mudah dari Manado menjadikan Bukit Doa Tomohon sayang dilewatkan bila anda mengunjungi kota ini.

Dari Bukit Doa Tomohon kita bisa mengunjungi beberapa objek wisata menarik lain yaitu Danau Tondano, Danau Linow atau mengunjungi Pasar Tomohon yang menjual beraneka macam daging yang kadang tak lazim hahaha. Atau ke Tinoor untuk makan Kawok, masakan berbahan dasar tikus hutan ala Minahasa.


Related Articles

Rabu, 13 Maret 2013

Taman Laut Bunaken, Manado


Bunaken adalah nama salah satu taman laut yang paling terkenal di Indonesia. Bunaken juga menjadi main attraction bila kita mengunjungi Manado. Tidak sah rasanya mengunjungi Manado tanpa singgah di Bunaken yang tampak menggoda di horizon kota Manado.

bunaken marine national park of manado

Taman Laut Nasional Bunaken mempunyai area dengan luas 75.265 ha. Terdapat 5 pulau yang termasuk dalam taman nasional ini yaitu Pulau Naen, Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua, Pulau Siladen, dan Pulau Mantehage beserta anak pulau yang di sekelilingnya. Dan jumlah penduduk yang ada di kelima pulau tersebut sekitar 21.000 orang.

Secara geografis Pulau Bunaken termasuk dalam wilayah perairan “Segi Tiga Emas“. Lebih dari sekitar 3000-an spesies ikan berada di Bunaken. Wilayah “Segi Tiga Emas” adalah jalur perairan laut yang menghubungkan laut Filipina, laut Papua, dan laut Indonesia. Karena kekayaan alam yang berada di Bunaken, organisasi nasional dan internasional non pemerintah saling bekerja sama dalam menjalankan konservasi terumbu karang dan mangrove.

Pemerintah Kota Manado mempunyai gagasan menjadikan Bunaken sebagai obyek wisata bahari dan wisata edukasi, karena pemerintah setempat melihat aktivitas konservasi alam laut di wilayah ini. Maka dari itu kawasan Pulau Bunaken pada 1991 silam, Menteri Kelautan meresmikannya sebagai Taman Laut Nasional Bunaken.

Untuk mencapai Taman Laut Nasional Bunaken, wisatawan dapat menggunakan transportasi yang sudah tersedia yaitu perahu motor aneka jenis dari pantai Teluk Manado. Sebagian perahu berupa "catamaran" yang memiliki dasar kaca sehingga kita dapat melihat pemandangan bawah air tanpa berbasah-basah ria. Harga kapal biasa dihitung per kapal sehingga akan sangat hemat jika kita pergi dengan banyak orang dan cost sharing.

Di dalam Blue Banter (Semi Submersible Ship)
Sayangnya saat ku hendak mengunjungi Bunaken tepat pada hari kerja dan aku tidak memiliki opsi hari lain. Jadilah aku terkatung-katung sendiri tanpa pendukung. Nyaris aku pulang dengan label "tidak sah" dari Manado karena tidak mengunjungi Bunaken. Namun kekecewaan itu batal terwujud berkat adanya opsi lain yaitu menggunakan "Blue Banter", sebuah kapal semi-submersible (setengah kapal selam) yang dapat kita booking di Hotel Ritzy, Manado. Harganya memang relatif mahal yaitu 300 ribu per orang untuk half day tour. Tapi tetap lebih ekonomis dibanding menyewa kapal sendiri sebesar diatas 500 ribu per kapal (yang ini bisa cost sharing sihhhh).
Bunaken memiliki luas kurang lebih sekitar 8 km² yang terletak di Teluk Manado. Di sekeliling Bunaken, ada taman laut yang juga bagian Taman Nasional Kelautan Manado Tua. Bunaken juga merupakan salah satu taman laut yang mempunyai biodiversitas laut tertinggi dunia. Oleh karena itu banyak para wisatawan yang datang berkunjung untuk melakukan aktivitas menyelam di kawasan Bunaken. Meski luas area mencapai 75.265 ha, lokasi menyelam sangat terbatas, hanya berada di sekitar pantai yang mengitari kelima pulau yang berada di kawasan Taman Laut Nasional Bunaken.
Bunaken Island, Manado
Pulau Bunaken
Museum Bunaken
Di Bunaken terdapat 40 lokasi penyelaman yang memiliki beraneka ragam terumbu karang dan ikan laut tropis yang indah. Wisatawan yang melakukan penyelaman di wilayah Bunaken akan disuguhi pemandangan 150 spesies ikan dari sekitar 58 genus ikan dan terumbu karang.
Ikan Lolosi, alias Fussiler Fish
Manado Wall


Taman Laut Nasional Bunaken mempunyai 20 dive spot / titik penyelaman dengan berbagai kedalaman yang bervariasi. Dari 20 dive spot, 12 dive spot berada di Pulau Bunaken dan merupakan titik penyelaman yang paling sering dikunjungi oleh penyelam-penyelam baik lokal maupun mancanegara. 

Manado Tua and Bunaken Island
Pulau (Gunung) Manado Tua dilihat dari Pulau Bunaken dengan hamparan Terumbu Karang

Related Articles :

Minggu, 27 Januari 2013

Ekstrim Kuliner : Kawok


Pernah dengar lelucon bahwa orang Manado memakan semua yang bergerak? Coba kalau sepeda motor bisa dimasak rica-rica, mungkin sudah dimasak juga. Memang agak berlebihan leluconnya, namun ada benarnya juga, karena di Manado kita dapat menemukan masakan yang berbahan dasar daging anjing, paniki (kelelawar), kucing, ular bahkan tikus.

Saya sebenarnya kurang begitu akrab dengan hewan yang bernama TIKUS. Namun sungguh sayang nih sudah jauh-jauh sampai di Manado tapi tidak mencoba Masakan yang diolah dari Kawok (tikus hutan berekor putih).

Masakan ini pun tidak terlalu mudah ditemui di tempat kelahirannya di Sulawesi Utara. Aku harus naik ke daerah perbukitan Tinoor ke arah Tomohon dari kota Manado untuk dapat mencicipi masakan kawok yang enak menurut temanku.

Setelah tiba di restoran yang dimaksud aku mulai berkeringat dingin menantikan apa yang akan muncul di meja saat aku memesan Kawok Rica-Rica pada pelayan. Bagaimana nanti penampakannya saat terhidang di meja ku. Bagaimana jika pas wajahnya atau cakarnya yang menghadap wajahku? Bagaimana pula nanti rasanya? Pokoknya butuh nyali ekstra bagiku untuk untuk menghadapi apalagi menyantap hidangan ini. Tapi yahhhh daripada penasaran, tancap jo!

Tiba-tiba hadirlah hidangan itu, dan nampak seperti potongan-potongan daging berbalut bumbu cabai merah yang cukup tebal. Aku mulai memilih bagian yang cukup netral bagi pikiranku dan mengindari penampakan-penampakan aneh dari badan sang tikus yang sudah terbujur kaku dan berbumbu dalam mangkuk.

Ini dia tampang Kawok Sebelum dimasak, berbeda dari tikus-tikus yang ada di rumah 
Kawok masak rica-rica
Tak lupa pula tampil nasi bersantan yang dibungkus dalam daun kunyit sebagai teman memakan kawok (rasanya mirip buras dengan aroma daun kunyit). Sepotong daging kawok mulai kunikmati dan otakku mulai bekerja keras mengidentifikasinya. Rasanya tidak aneh kok, mirip ayam namun dengan tekstur lebih lembut... lebih kasar dari daging kodok. Namun tak ada bau atau rasa tajam lain dari masakan ini. Tapi tetap saja ini tidak akan menjadi masakan Manado favoritku hahaha.

Memasak kawok rica-rica mungkin sedikit lebih netral dibanding mencoba kawok yang dimasak santan. Nanti deh untuk memakan yang kuah santan, takut tidak tertelan dan jackpot. 

Harga sepotong kawok di Tinoor saat itu (2010) seingatku 7000-8000 dan harga nasi bungkus daun kunyitnya kayaknya cuma 1000 atau paling mahal 2000 per bungkus. Setidaknya rasa penasaranku lunas terpuaskan dan hari itu aku melanjutkan perjalanan menuju Tondano untuk menikmati keindahan danau terbesar di Sulawesi Utara sambil melanjutkan wisata kuliner di sana.

Related Articles :

Minggu, 01 Juli 2012

Danau Linow, Minahasa



Siapa bilang Sulawesi Utara hanya terkenal dengan pantai dan keindahan bawah lautnya? Provinsi ini juga kaya akan keindahan alam lainnya, salah satunya Danau Linow di Minahasa. Danau ini unik karena terlihat berwarna-warni.

Danau seluas 34 hektar ini merupakan lokasi favorit masyarakat setempat. Selain warna-warni danau yang indah, alam sekitarnya pun cantik. Burung-burung belibis (ada yang menyebutnya itik liar) terbang rendah sambil sesekali berenang di permukaan air.

Lalu apa yang membuat danau ini memiliki beberapa warna yang berbeda? Ternyata danau ini terbagi menjadi dua sisi. Salah satu sisi memiliki kandungan belerang yang tinggi, sementara sisi yang lain tidak. Kandungan belerang ini, ditambah dengan efek cahaya matahari mampu membuat danau seolah-olah memiliki warna yang berbeda.

Sejak tahun 2006 pihak swasta membangun taman di pinggir danau — dengan tiket masuk Rp 25.000 per orang. Harga tersebut sudah termasuk kopi dan kue kelapa yang disediakan pengelola. Taman pinggir danau sebagian besar terdiri dari rumput yang terawat rapi, tempat duduk-duduk, serta kafe. 

Sebuah jalan setapak dibangun di pinggiran bagi pengunjung yang ingin berjalan-jalan, maupun untuk mereka yang ingin berolahraga lari.

Para pengunjung biasanya duduk-duduk di pinggir danau sambil menikmati pemandangan Linow yang hijau kebiruan. Di sisi lain terlihat warna biru keputihan. Dari sisi lain warna danau terlihat berbeda.


Danau Linow ini berada di Desa Lahendong, Tomohon. Bila ingin berkunjung ke danau ini paling ideal adalah menyewa mobil karena dapat mengunjungi beberapa objek wisata sekaligus. Bila ingin hemat, Anda dapat naik angkutan umum dari Terminal Tomohon, namun harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 700 meter.  Dari kota Manado hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai danau.





Related articles :

Minggu, 06 November 2011

Manado, the Capital of Spicy and Exotic Cuisine

  
kue ala manado


Manado adalah ibukota Sulawesi Utara yang terkenal dengan sebutan Nyiur Melambai. Dengan keindahan alam, kekayaan budaya, kuliner dengan rasa otentik, merupakan beberapa hal yang membuat kota ini sempurna dan memiliki potensi yang besar untuk dikemas sebagai Kota Wisata layaknya Bali. 

Sektor Pariwisata di kota Manado sangat menjanjikan. Banyak pilihan bagi wisatawan untuk berekreasi dan berwisata ria. Cukup panjang daftar yang harus dibuat untuk menyebutkan tempat-tempat menarik yang ada di sekitar Manado. Kita bisa mulai dari yang paling terkenal yaitu Taman Laut Bunaken yang telah dikenal dunia internasional. Bunaken terkenal akan keindahan dan luasnya terumbu karang disana plus palung-palungnya yang menjorok langsung ke laut dalam. Selanjutnya kita bisa masukan banyak lokasi unik di daftar kita seperti Diving site di Pulau Lembeh, Melihat Tarsius di Tangkoko, Situs Megalitikum Waruga, Danau Tondano dan Danau Linow, pusat perbelanjaan di sepanjang jalan Boulevard, menikmati pantai di Malalayang, Wisata Rohani ke Bukit Doa dan Bukit Kasih dan masih banyak lagi. Namun ada hal yang jangan sampai anda lewatkan di kota ini : WISATA KULINER.

Dengan Iin sarapan bubur Manado (Dego-dego Cafe)
Manado dikenal dengan cita rasa makanan nya yang berempah dan pedas. Ada beberapa tempat makan yang aku kunjungi saat ke Manado yang menurut temanku berada di top list dan most recommended. Dimulai dengan ke kawasan Wakeke. Cobalah anda melewati jalan ini pada pagi hari, kita akan menemui antrian kendaraan yang cukup tersendat. Kios-kios makanan yang menjual Tinutuan alias Bubur Manado berjajar disini. Pagi hari adalah saat yang tepat untuk menikmati tinutuan ditemani ikan nike, perkedel jagung, dan sambal ikan Roa khas Manado. Anda juga bisa memesan Mie Cakalang sebagai alternatif. Soal rasa bisa dibuktikan dengan selalu ramainya kawasan tersebut saat jam sarapan. Hari itu aku dengan Iin sebagai guideku memilih Dego-dego Cafe. Pada hari tertentu anda bisa menikmati alunan musik Kolintang sambil menghabiskan Tinutuan beserta pelengkapnya. Manado banget bukan?

Menu sarapan lainnya yang beken di Manado adalah Nasi kuning. Nasi kuning di Manado sedikit berbeda dengan nasi kuning yang umumnya ditemui di Jawa. Di Manado lauk yang digunakan sebagai pendamping nasi kuning adalah ikan cakalang, kering kentang dan sambal. Nasi kuning Seroja dan nasi kuning Ternate adalah beberapa nama yang cukup beken di Manado. Ada lagi yang unik tentang nasi kuning di sini. Jika anda ingin membawa nasi kuning tersebut untuk dimakan di rumah, mereka akan membungkusnya dengan daun woka (seperti janur berbentuk kipas) sehingga tampilannya unik.

Nasi Kuning ala Manado
Siang hari anda bisa menuju kawasan Paal 2 untuk menikmati Es Tji Mei. Es Tji mei mirip dengan Es kacang merah/brenebon namun ada campuran durian dan alpukat di dalamnya.

Kalau ingin sekedar menikmati kue-kue dan makanan ringan khas Manado maka Miangas adalah tempat yang tepat. Anda bisa memesan Gohu, dan mengambil beberapa kue khas seperti lalampa, panada, temo coe, lampu-lampu, bobengka dan lain-lain. Gohu adalah semacam asinan pepaya muda yang dicampur dengan cuka, jahe, cabe dan terasi plus gula garam. Saya suka dengan rasanya yang segar namun tetap sedikit berempah berkat adanya campuran jahe.

Bagi anda pecinta ekstrim kuliner anda bisa mengunjungi Tinoor. Tinoor terletak di jalan antara Manado dan Tomohon. Pemandangan di daerah ini indah, namun ada hal lain yang saya cari disana saat itu : masakan tikus ala Minahasa. Walaupun tikus yang digunakan untuk makanan ini adalah tikus hutan pemakan buah, namun tetap memerlukan keberanian untuk menelannya. Hidangan tersebut biasa disajikan dengan lontong. Agak susah menelan hidangan yang satu ini namun rasa nya tidak semengerikan tampilannya. rasanya lembut seperti daging ayam. Namun tetap aku tak bisa berlama-lama melihat potongan daging tersebut berada di depan mataku (sebenarnya sudah tak terlalu nampak jelas karena sudah terpotong-potong). kami lanjut ke daerah Tondano.

Tikus Rica-rica @Tinoor

Mampirlah ke Tondano sambil menikmati kuliner di tepi danaunya. Olahan dari kolombi (siput) adalah sesuatu yang tidak boleh dilewatkan. Nikmatilah seporsi sate kolombi sambil menikmati danau terbesar di Sulawesi utara tersebut. Woku kolombi dan tumis kangkung adalah makanan lain yang perlu anda coba karena kangkung di Tondano sepertinya merupakan varietas raksasa hahaha.

Makan Siang di tepi Danau Tondano
Malam hari adalah saat yang tepat untuk memilih sepanjang restoran di tepi pantai Manado untuk menikmati hidangan laut, kelapa muda ditemani terpaan angin laut dan suara ombak. Maknyuss rasanya. Kita bisa menyaksikan kelap-kelip pertokoan di kawasan Boulevard Manado dari kejauhan sambil menunggu pesanan datang. Aku memesan Woku Ikan saat itu. Woku adalah jenis masakan manado yang paling aku suka. Biasanya teknik memasak ini menggunakan ikan atau makanan laut lainnya sebagai bahan dasarnya. Woku merupakan olahan yang kaya akan bumbu dan rempah. tampilan akhirnya seperti masakan kuning yang sedikit pekat namun kalau dicicipi kita akan menemukan perpaduan antara sereh, kunyit, jahe, daun kunyit, daun bawang, kemiri pokoknya campur aduk deh tapi enak sekali. dan jangan lupa memesan kelapa muda, karena tak afdol rasanya kalau belum minum kelapa muda di Kota Nyiur Melambai ini.

Hidangan yang nikmat pula disantap malam hari adalah rage. Hidangan non-halal ini merupakan sate babi dalam potongan besar, namun dengan teknik membakar yang pas sehingga semua daging tetap masak sampai di dalamnya. 

Untuk desert, Manado punya Klapertart. Kue dengan bahan dasar kelapa ini sangat cocok untuk dijadikan oleh2 ala Manado. Dalam kue ini kita bisa merasakan gurihnya kelapa muda berbetuk potongan-potongan dengan rasa creamy susu dan wangi rhum. Di bagian atas nya terdapat taburan keju, kismis, kenari yang merupakan kesukaan saya semua. Rasanya tentu pas di lidah dan dijamin ketagihan. Klapertart biasa disimpan dan disajikan dalam keadaan dingin. Untuk oleh-oleh lainnya kita bisa membeli sambal ikan roa, bagea, cakalang fufu selain klapertart.

Masih banyak hidangan unik ala Manado, cukup banyak juga yang terkenal seperti Erwe, Paniki, Tinoransak dan kawan-kawan nya yang membuat manado layak untuk dinobatkan menjadi

The Capital of Spicy and Exotic Cuisine versi saya. Untuk yang belum pernah ke Manado, silahkan cantumkan kota ini ke list teratas daftar tujuan wisata anda dan selamat menikmati keelokan Negeri Nyiur Melambai.
  
Manado
View of Manado from the top of  Sintesa Peninsula Hotel
Related Articles ;
Danau Linow, Minahasa
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...