Jumat, 13 April 2012

Nunbena, a traditional highland village of NTT



Desa Nunbena, Kecamatan Nunbena, Kabupaten Timor Tengah Selatan


Nunbena adalah nama sebuah Desa dan Kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Tidak ada yang terlalu istimewa dari desa ini, roda kehidupan penduduknya berputar layaknya desa-desa pegunungan lainnya di TTS. Penduduknya bergantung pada sektor perkebunan, menenun, berternak, yahhh layaknya suasana pedesaan pada umumnya.

Terdapat pasar di Desa ini, namun hanya buka seminggu sekali dengan barang dagangan yang kurang variatif dan jumlah pedagang yang tidak terlalu banyak. Yang diperjual belikan mulai dari "makanan pokok" orang NTT, yaitu sirih pinang, benang berwarna-warni dalam gelondongan besar untuk menenun, hewan ternak, barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun, minyak kelapa, minyak tanah dan segala tetek bengeknya. Nampak sebagian besar yang ditemukan disini adalah barang kebutuhan primer yang dibawa oleh penduduk lokal dan pedagang yang datang dari kota menggunakan Truk.

Pasar Tradisional ala NTT di Nunbena

Nunbena terletak di daerah perbukitan dengan jalan naik turun serupa dengan Fatu Ulan. Cukup miris memang melihat seorang nenek menggendong barang jualannya melewati daerah berbukit sejauh beberapa kilometer demi berharap barang tersebut laku dijual. Mungkin tak banyak uang yang dapat diperoleh, atau bahkan uang tersebut akan habis karena dia akan membelanjakannya untuk membeli keperluan lain.

Aku berasa seperti terlempar beberapa dekade ke belakang saat berada di Nunbena, kesan tradisional, alami, etnik, membuatku penasaran dan menjelajahi pasar ini yang tak sampai 5 menit sudah habis kulewati dari ujung ke ujung. Udara yang sejuk dan berkabut dihiasi bukit-bukit padang rumput menghijau  membuat segala sesuatunya menjadi menarik untuk dipandang mata dan terekam dalam ingatan

Pemikiran masyarakat disini nampak tak sekompleks masyarakat di kota besar yang saling berlomba-lomba membeli gadget terbaru karena takut ketinggalan jaman, handbag seharga puluhan juta untuk menunjukan status sosial, krim anti keriput demi menjaga penampilan. Terlalu ekstrim memang bila dibandingkan, namun sekali-kali orang kota perlu dibawa ke tempat seperti ini untuk memperlambat pacing nya sehingga lebih relax, lebih berempati dan kadang memperoleh pencerahan dan cara berpikir lebih jernih tentang hidup dan kehidupan.

Setelah melewati pasar tersebut, ambulance ku berjalan terus maju sampai menemukan desa Nunbena dan bukit-bukit hijau diselingi jurang terjal. Lega dan puas rasanya mata ini saat melemparkan pandangan jauh ke arah perbukitan tersebu, bahkan birunya pantai Kolbano bisa terlihat dari sini. Dari sini pula aku dapat melihat betapa sulitnya membangun infrastuktur disini. Medan yang tidak rata ditambah ancaman longsor, membuat pembangunan jalan raya beraspal sulit, dan kalaupun ada akan cepat rusak. Dari bukit-bukit di kejauhan tampak guratan berwarna putih meliuk membelah bukit, dan itulah jalan berbatu yang dipakai masyarakat untuk menghubungkan desa-desa disini.

Rasanya sulit bagiku untuk kembali ke tempat ini. Namun saat-saat aku berjalan kaki menyusuri bukit-bukitnya sambil bersenandung mengucapkan syukur pada Tuhan akan kukenang. Saat itu aku hanya duduk di tepian jurang, sambil duduk mengarahkan pandang ke arah lautan, menyalakan MP3 player dan melihat awan-awan bergerak berkejaran tertiup angin kencang. Tak banyak yang kulakukan, hanya duduk, diam, menarik nafas panjang dan menikmati setiap menit yang tak akan terulang kembali di Nunbena.

Kolbano dan Laut Timor nampak di kejauhan
Pemandangan yang terhampar luas dilihat dari Nunbena
Pasar Mingguan di desa Nunbena
Kain Timor; Yang coklat adalah motif khas daerah Boti dari Kab.TTS

Nunbena Green Hills
Jalan yang meliuk dan nampak seperti garis putih membelah bukit
Rumah Lopo khas NTT
Highland School (in Fatu Ulan)
Another beautiful village : Fatu Ulan
Nusa Tenggara Timur
 Related articles :
Fatu Ulan the misty forest
Kolbano, the white stone beach
Fatu Ulan the misty land [photo gallery]
Kampung Bena
Aerial photography part 6 : Nusa Tenggara Timur

Selasa, 03 April 2012

Aerial Photography Part 6 : Nusa Tenggara Timur


Nusa Tenggara Timur, 

Yang terlintas pertama mengenai Provinsi ini adalah gersang, tandus dan kering. Memang  curah hujan di wilayah ini rendah namun kenyataannya tidak semua daerah di NTT kering, contohnya di sekitar kota So'e di pulau Timor yang cenderung lembab dan dingin.

Aku pernah tinggal selama kurang lebih 3 bulan di Pulau Timor di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pulau Timor merupakan salah satu dari 3 pulau utama yang membentuk NTT. 2 pulau lainnya adalah Pulau Sumba dan Flores. Ketiga pulau ini kaya akan budaya, keindahan alam, potensi wisata yang masih kurang dipopulerkan.

Aku sangat menikmati 3 bulanku selama di pulau Timor. Semua masih tampak alami dan tradisional disana.Keindahan alamnya pun boleh untuk diadu. Mulai dari pantai berbatu putih di Kolbano, Nualunat dan Fatu'un; sampai ke daerah pegunungan dengan pemandangan menakjubkan di Fatu'ulan, Ofu, Pene, Nunbena. Banyak yang kita bisa dapat dari 1 kabupaten saja, bayangkan jika kita membuat list daerah wisata di NTT. mungkin perlu beberapa lembar kertas untuk mencatatnya.

Flores terkenal pulau Komodo nya yang sekarang termasuk dalam New 7 Wonders of Nature; Selain itu terdapat danau Kelimutu di Ende dengan 3 warnanya yang berbeda; Kampung Bena yang merupakan situs megalitikum di kabupaten Ngada; Taman Laut Riung 17 pulau; taman laut di Maumere; Larantuka yang terkenal dengan prosesi umat Katolik saat menyambut masa Pra Paskah dan banyak lagi.


Danau Kelimutu
Sumba terkenal dengan hal-hal yang berbau tribal dan etnik serta festival Pasola nya dengan satria-satria penynggang kuda nya.

Kali ini kutampilkan seri Aerial Photography ku yang menampilkan keindaahan NTT dari ketinggian. dan nikmatilah keindahan Provinsi Nusa Cendana ini.

Kab. Timor Tengah Selatan

Pantai Kolbano
Sungai Noelmina antara Kupang dan So'e

Kab. TTS

Green Plains

Near Kupang
Kolbano
Flying with Helicopter
Kolbano Beach
Fatu ulan
Related articles :
Aerial Photography Part 1 : Kolbano Beach
Aerial Photography Part 4 : Nusa Tenggara Barat
Aerial Photography Part 11 : Komodo National Park
Kolbano, the White Stone Beach
Fatu Ulan, the Misty Forest

Rabu, 21 Maret 2012

Colorful Rau Island, Morotai




Pulau Rau, saya rasa anda baru mendengar nya kali ini. Pulau Rau terletak di Kabupaten Morotai, merupakan sebuah pulau kecil di wilayah Provinsi Maluku Utara. Sebagai Provinsi Penghasil rempah-rempah, maka bukan hal yang aneh jika mata pencarian penduduk pulau ini bertumpu pada perkebunan Pala, Cengkih selain dari hasil laut.


File:Morotai Topography.png
Pulau Rau, nampak sebagai pulau di Barat Morotai
Pulau Morotai, Maluku Utara
Saya berkesempatan mengunjungi nya pada bulan Agustus 2010 bersama dengan teman-teman dari Klinik Hohidiai dalam rangka untuk melakukan pelayanan kesehatan selama beberapa hari di pulau tersebut.

Saya berangkat menuju pulau Rau dari pelabuhan Tobelo di Pulau Halmahera dengan kapal kayu menuju Desa Leoleo yang akan menjadi tempatku tinggal selama di Pulau Rau.

Perjalanan laut dari Tobelo ke Leoleo ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam dan ada beberapa spot menarik selama perjalanan. Salah satunya adalah melihat Gunung Api Dukono di Halmahera yang senantiasa terbatuk dan melatarbelakangi kota Tobelo. Aku juga bisa melihat bagaimana ikan terbang melayang bebas dan lumba-lumba beraksi.

Kapal tiba di Posiposi -desa lainnya di Pulau Rau-. Kami disamput oleh ribuan ikan julung-julung yang berkelompok dan bergerak lincah dalam kawanannya membuat atraksi koreografi bawah air yang indah di dalam laut Posiposi yang berwarna turquoise. Beberapa saat perahu bertolak kembali dan sampailah kami di Leoleo.
Desa Posiposi

Kami tiba saat hampir senja di Leoleo, dan di hari pertama kami sadar bahwa Leoleo memiliki senja yang istimewa.

Aku tinggal di sebuah rumah bekas pastori di pulau itu selama 10 hari bersama tim. Sehari-hari kami melakukan pelayanan kesehatan dasar disana dan program UKS. Setiap pagi, siang dan sore ibu-ibu bergantian membawa makanan secara bergilir dari ujung desa yang satu ke ujung lainnya.

Pastori tempatku tinggal berada tak jauh dari pantai, dan tak jarang kami menghabiskan senja kami dengan berenang atau sekedar duduk menyaksikan langit yang tampil berwarna-warni dengan guratan senja yang indah.









Leoleo waterfall 







Related article :
Manado; the Capital of Spicy and Exotic Cuisine
What are The Fish in Your Life


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...