Tampilkan postingan dengan label Hutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hutan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 November 2011

Fatu Ulan - The Misty Land [Photo gallery]


Fatu Ulan, daerah perbukitan di Kabupaten Timor Tengah Selatan ini memiliki pemandangan layaknya negeri dongeng. Bukit-bukit yang menghijau disertai kabut yang hampir turun setiap hari, dijamin membuat kita takjub akan keindahan negeri kita Indonesia. 

Bagi anda pecinta petualangan, taruhlah nama daerah ini dalam list apabila anda mengunjungi pulau Timor di NTT. Cukup dengan duduk di tepi tebing batu, sambil memandang jauh ke arah padang rumput yang terhampar di bukit,  menyentuh awan, melihat rumah dengan atap rumbia berbaris di kiri kanan jalanan putih yang berkelok. Bagai terlempar ke gambar-gambar buku dongeng pengantar anak-anak terlelap. 

Fatu Ulan adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan yang beribukota di. So'e. So'e sendiri dapat diraih dari Kupang lewat jalur Trans Timor yang menghubungkan Kupang, So'e, Kefamenanu dan Atambua. Kondisi Jalan tersebut cukup baik dengan lama perjalanan 3 jam dari Kupang. So'e terkenal dengan udaranya yang sejuk dan jeruknya yang berwarna orange ala Sunkist. Selain Fatu Ulan, banyak objek wisata menarik lainnya sekitar So'e dan anda juga bisa belanja madu disini. Hotel dan penginapan tersedia di So'e.
Beberapa lokasi jalan yang rawan longsor

Dari So'e, kita masih perlu melanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih 3 jam untuk menuju Fatu Ulan. ambil arah ke Niki-niki untuk kemudian berbelok ke arah Kie. Medan kali ini berupa jalan pegunungan yang  rawan longsor di beberapa titik. perlu mobil 4 WD untuk melewatinya. Fatu Ulan emang sulit diakses namun semua akan terbayar lunas ketika anda mulai memasuki Hutan Larangan (Entah mengapa penduduk lokal memanggilnya begitu). Kabut seolah-olah menjadi penguasa daerah tersebut dan enggan beranjak. Nikmatilah kompleks hutan lembab, padang rumput hijau dengan sapi dan kuda yang merumput disana, tebing dan jurang yang terjal, batu-batu putih yang tersusun sebagai pagar ternak, pohon yang meliuk ala bonsai dan selimut kabut yang menjadikannya SEMPURNA 






















Related articles :
Fatu'Ulan the Forbidden Misty Forest
Kolbano, the White Stone Beach
Aerial Photography Part 6 : Nusa Tenggara Timur

Senin, 07 November 2011

Pangkur Sagu

Bapangkur menggunakaan Nani dan Dedagam
Apa makanan pokok orang Maluku dan Papua??? dan anak-anak SD itu pun serentak menjawab "Sagu". Ya, memang benar, sebagian wilayah di Maluku dan Papua masih mengandalkan sagu sebagai makanan pokoknya walau saat ini sudah sebagian tergantikan dengan beras. Namun apa itu sagu? Berasal dari tanaman apakah sagu? Bagaimana wujudnya? Apa rasa nya? Semua nya terjawab saat aku tinggal di Maluku selama 2 tahun.

Aku bertugas sebagai dokter PTT di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Aku mengabdi di sana pada tahun 2007-2009. Cukup menantang dalam menjalani proses adaptasi di Maluku. Namun saat-saat PTT tersebut merupakan moment terkaya dan takkan terlupakan.

Puskesmas Batu Goyang
Batu Goyang merupakan nama Puskesmas pertamaku di Kepulauan Aru. Aku bertugas disana selama 6 bulan dan selanjutnya pindah ke Puskesmas Longgar-Apara dan bertugas disana 1,5 tahun lamanya. Dua Puskesmas tersebut terletak di bagian selatan Aru dan digolongkan ke daftar Puskesmas terjauh dari ibukota Aru : Dobo.

Penduduk di Batugoyang masih hidup secara tradisional. Mereka mengandalkan laut sebagai mata pencahariannya. Sesekali mereka berburu rusa atau babi hutan dan pada saat-saat tertentu mereka pergi ke hutan untuk pangkur sagu.

Pangkur sagu adalah serangkaian proses pengolahan yang dilakukan untuk mendapatkan tepung sagu. Mulai dari pemilihan pohon sagu yang sudah cukup umur, menebangnya, memangkurnya dan meramas sampai menjemur untuk mendapatkan tepung sagu.

Belum genap seminggu aku berada di Batugoyang aku mendengar pengumuman di gereja bahwa akan diadakan kerja bakti pangkur sagu yang uangnya akan digunakan untuk kas gereja. Tak sabar aku menunggu hari itu tiba, karena aku sendiri penasaran dengan pangkur sagu sekaligus ingin kumanfaatkan sebagai ajang mencari kawan dan perkenalan dengan penduduk desa tempatku bertugas.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Sekitar jam 7 pagi kami semua sudah bersiap menuju dusun (sebutan mereka untuk kawasan rumpun sagu berada). Kami berjalan menyusuri pantai berpasir putih ditemani sekelompok burung Talang yang terbang dengan sayap yang mengembang lebar. Tak lama kemudian kami berbelok melintasi padang rumput bersemak untuk masuk ke dalam hutan.

Habitat pohon sagu (Metroxylon sago Rottb.) adalah di rawa-rawa. Biasanya tumbuh dengan sendirinya dan berkerumun dalam kelompok. Pohon sagu menyukai lingkungan yang berair, sehingga sering digunakan oleh penduduk lokal sebagai indikator untuk mencari sumber air. Apabila masyarakat hendak membuat sumur, maka mereka mencari tempat dimana pohon sagu tumbuh.di sekitar kampung mereka dan menggalinya disitu.

Kami telah menerobos hutan, mengarungi sungai-sungai kecil sampai benar-benar berada di rawa tempat 4 pohon sagu yang akan kami pangkur hari itu berada. Pohon Sagu termasuk golongan tanaman palem, memiliki pelepah yang berduri dan batang yang cukup kokoh dan tegak. Sagu yang biasa dikonsumsi masyarakat Maluku berasal dari bagian batangnya yang akan dihancurkan dan diambil pati nya. Sagu yang akan dipangkur harus telah cukup tua yang ditandai dengan telah keluarnya pucuk bunga pada bagian mahkotanya.

Pekerjaan awal dimulai dengan merubuhkan pohon sagu. Kemudian dilakukan pengupasan kulit pohon bagian terluar sehingga terlihat bagian dalam dari pohon sagu yang berwarna putih dan cukup empuk layaknya pohon palem-paleman. Semua dilakukan secara bergotong-royong dan menggunakan peralatan tradisional.

Batang yang telah terkupas tersebut kemudian dipukul-pukul dengan Nani agar hancur menjadi seperti serbuk kayu kasar (Ela). Nani adalah kayu dengan lempeng besi berbentuk cincin di ujungnya. Ia dikaitkan dengan Dedagam sebagai tongkat pemegang. sehingga kalau disatukan keduanya tampak seperti kayu bersiku 90 derajat namun bertali. Ujung lempeng besi pada nani berguna untuk melumatkan kayu sagu. Perlu waktu beberapa hari untuk menghancurkan keseluruhan batang sagu itu menjadi Ela.

Selagi menghancurkan batang sagu menjadi ela, beberapa orang beburu dan yang lainnya membuat Rungut dan menjahit Goti. Goti adalah semacam saringan yang terbuat dari serabut anyaman pada sela-sela pohon sagu. fungsi goti dapat digantikan oleh kain. Goti kemudian dijahit di salah satu ujung pelepah sagu, fungsinya persis seperti saringan. Sedang Rungut adalah pelepah sagu yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk saluran mulai dari tempat memeras sagu hingga tempat menadah endapan sagu. Semua perlengkapan untuk pangkur dibuat dengan bahan yang berasal dari pohon sagu itu sendiri mulai dari pelepah, serabut antar pelepah, daun (yang akan dijadikan pembungkus tumang), bahkan duri pohon sahu mereka gunakan layaknya paku untuk menyambung pelepah membentuk rungut. 

Bila ela sudah terkumpul cukup maka dilakukan pemerasan. Ela dicampur dengan air, kemudian diremas hingga keluar pati sagunya. Biasa proses memangkur sagu dilakukan di dekat air karena proses ini membutuhkan banyak air. Pada saat itu mereka menggunakan air rawa sekitar untuk dicampur dengan ela dan diremas, sehingga rentan terhadap kontaminasi dan kotoran. Pemerasan ela dilakukan berulang hingga air perasan berwarna agak jernih. Air pati tersebut tersaring saat melewati goti dan mengucur ke Rungut. Di rungut, air tersebut akan mengendap dan air jernih di atas endapan tersebut akan terdorong dengan air remasan ela yang baru. begitu seterusnya berulang-ulang.

Seekor Kangguru hasil buruan saat pangkur sagu
Endapan yang terkumpul di Rungut tersebut kemudian didiamkan sejenak hingga cukup kaku dan agak mengering. Satu proses talah selesai. mereka memasukkan sagu endapan yang masih agak basah ke ember-ember yang terbuat dari daun sagu dan dinamai Tumang. Yang dilakukan selanjutnya adalah membiarkan air dari tumang itu menetes keluar sehingga tumang menjadi padat. Atau menghamparkan isi tumang tersebut untuk dijemur agar diperoleh tepung sagu. Dan selesailah rangkaian pembuatan sagu.

Tumang
Sagu yang telah dihasilkan dapat diolah menjadi beberapa jenis makanan. Umumnya mereka membuat papeda sebagai makanan pokok mereka. papeda dibuat dengan melarutkan tepung sagu ke dalam air mendidih hingga terbentuk lem. Biasa papeda disajikan dengan ikan kuah asam atau makanan berkuah lainnya untuk mencegah papeda melekat pada dasar piring. Perlu gata-gata atau dua batang seperti sumpit untuk mengambil papeda. Dengan gerakan memutar seperti memintal maka lem itu dapat diangkat dari mangkuk untuk dihidangkan ke piring yang telah berisi ikan kuah asam. Rasa nya kenyal dan sedikit masam dan segar berkat kuah ikannya. Telanlah langsung papeda tanpa mengunyah nya, karena memang begitulah cara memakannya.
Papeda, Olahan Sagu yang menjadi makanan pokok Maluku dan Papua
Papeda, Ikan Kuah Asam, Colo-colo, Sayur Bunga pepaya  (Maluku banget tuh)

Makanan pokok dari sagu yang aku suka adalah Senoli. Terbuat dari kelapa dan sagu, kemudian disangrai sampai terbentuk gumpalan-gumpalan liat yang kecil. Setelah matang senoli dihambur dengan sedikit gula pasir dan dimakan dengan ikan bakar. Senoli bertekstur kering tidak seperti papeda yang lengket. Rasa manis dan gurih nya senoli ditambah bau hangus akibat disangrai memang sangat cocok untuk disantap bersama ikan bakar. 

Sagu juga dapat dibuat menjadi kue pompom yang kering. caranya dangan memasukan sagu tersebut ke pipa besi khusus lalu dipanaskan lalu dipotong memanjang menjadi 6 bagian. Pompom sangatlah keras, biasa disajikan saat sarapan dengan dicelup air teh manis atau kopi agar dia mengembang dan melunak. Rasanya tawar. 

Sagu biasa dijual dan ditemui dalam bentuk lempeng atau dalam ukuran per tumang. Di Aru yang terkenal adalah penjualan dalam wujud tumang, namun di Ambon sepertinya sebaliknya.

Namun ada mitos bahwa sekali makan papeda Aru maka akan melekat dan teringat dengan tanah Aru, Dan setidaknya terbukti saat aku menulis artikel ini, aku antusias, rindu dan masih mengingat jelas karena sebagian hatiku masih tertempel di tanah Maluku oleh lengketnya papeda. Jadi silahkan dicoba menikmati makanan khas Indonesia Timur ini.

Pangkur Sagu oleh Penduduk Batu Goyang
Related article :
Longgar dan Apara -2 Desa di Tepian Indonesia-
A Journey Through Aru Islands
Beauty and the Beach : Maluku Tenggara, Pulau Ambon, Maluku UtaraAmbuyat : Bruneian's Iconic Cuisine Heritage

Senin, 31 Oktober 2011

Outreach Eye's Cases : Siding, Kalimantan Barat





Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat
Masalah perbatasan Indonesia-Malaysia kembali mengemuka. Kali ini perbatasan antara Sambas (Kalbar) dan Serawak yang menjadi sengketa. Aku ingin bercerita dari sudut pandangku bagaimana kondisi daerah -daerah perbatasan bedasar kunjunganku ke salah satu desa yang berbatasan wilayah dengan Malaysia di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat pada tahun 2010. Kunjungan tersebut dalam rangka Outreach Eye's Cases dokter-dokter spesialis mata dari RS Bethesda Serukam, Kalimantan Barat.

Siding desa yang terletak di Kabupaten Bengkayang, akan menjadi target sasaran pelayanan kami. Tim kami membekali diri dengan peralatan pemeriksaan mata portable, portable slit lamp, puluhan kacamata gratis dengan berbagai ukuran, 2 dokter spesialis mata, 2 dokter umum yaitu aku dan dr. Susi yang bertugas sebagai dokter PTT di Siding, serta beberapa perawat dari Klinik Mata RS Bethesda.

Perjalanan menuju Siding tidaklah mudah, kami memulai perjalanan dengan naik mobil menuju Bengkayang. Kami melewati daerah perbukitan dengan kondisi jalan yang naik turun meliuk dengan naungan hutan yang lebat Kalimantan. Setiba di kota Bengkayang kami membeli perbekalan karena kami akan menginap beberapa hari di Siding. Kota Bengkayang tidaklah terlalu besar. didominasi oleh pasar yang dikelilingi bangunan kuno serta sebuah klenteng.

Perjalanan nasih berlanjut terus ke utara, setelah kami mencapai Sanggauledo perjalanan menjadi semakin menantang. Aspal yang tadinya masih selapis tipis kali ini "punah" diganti tanah merah becek. Kadang ditempatkan batu-batu besar di tengah jalan untuk mencegah timbulnya kubangan. Total perjalanan dari Bengkayang sampai Seluas ditempuh dalam 3-4 jam.

Seluas merupakan kota kecamatan, terletak di tepian sungai dimana terdapat jembatan menuju  Jagoibabang  (Salah satu pintu perbatasan Indonesia-Malaysia) yang katanya sudah tidak terlalu jauh lagi. Namun kami tidak melintas melewati jembatan tersebut melainkan menyusuri sungai dengan perahu motor menuju ke hulu sungai selama 3 jam menuju desa Siding. Sungguh mengenaskan bukan nasib daerah "etalase" negara kita.
Kota Bengkayang

Seluas

Siding bukan satu-satunya desa yang sulit diakses. ada beberapa desa lagi yang akses nya melalui sungai tersebut. bahkan ada beberapa desa yang hanya bisa diakses dengan bejalan kaki atau jalur udara (menggunakan pesawat perintis dan mendarat darurat)

Sepanjang perjalanan sungai menuju Siding kami disuguhi dengan hutan hujan tropis alami -One of the Heart of Borneo was here- Rimbunnya hutan, tumbuhan paku raksasa dan rumpun pakis di sepanjang alirannya yang coklat menjadi daya tarik tersendiri.

Unforgetable Night Cruise with Yuli, Kak Iin, Dewi & Baban
[[ Pada kunjungan lainnya ke Siding, aku melewati sungai ini malam hari. Ya! MALAM hari, kami berangkat jam 6 sore dan tiba pukul 21.30. Kunang-kunang kadang muncul selintas memberi penawar rasa cemas melewati pekatnya sungai rimba dengan hanya diterangi 2 buah cahaya senter. Kadang kami harus turun karena perahu kandas, kami harus mendorong perahu melawan arus sampai perahu tiba di daerah yang cukup dalam. Pada kunjungan kedua tersebut kami pergi berlima; Aku, seorang penduduk lokal dan 3 wanita -hahaha aku harus memastikan 3 wanita tersebut tidak lebih kuatir dari diriku malam itu melewati pekatnya sungai di rimba Borneo.]]



Journey to Siding

Terdapat beberapa perkampungan suku dayak di sepanjang aliran sungai tersebut. Kadang kami sesekali berpapasan dengan perahu penduduk lokal yang ingin menuju Seluas membawa hasil bumi. dan pada perjalanan kali ini kami kurang beruntung, hujan turun seolah ingin membuktikan bahwa kami berada di "kawasan Hutan HUJAN Tropis". aku salut dengan dr. Steve Anderson dan dr. Edy. Dua Spesialis mata dari RS Bethesda Serukam itu rela berbasah ria bahkan tersenyum menyambut hujan di perahu kecil. I'm proud of You Docs!

Siding merupakan sebuah desa ibukota Kecamatan, di desa tersebut terdapat Puskesmas dan pos tentara perbatasan. Aroma Malaysia berasa kental disana. mulai dari mata uang ringgit, beberapa barang made in Malaysia, tabung gas Petronas. Sebagian pemuda disini pun bekerja di Malaysia Timur. Malaysia dapat diraih dengan berjalan kaki karena letaknya hanya di balik gunung Anggas.
Ironis nya saat aku tanya apa ibukota Indonesia ke anak-anak yang sedang bermain; mereka hanya menggeleng. "Indonesia mereka hanya sebesar Siding, Tamong dan Seluas" (yang merupakan nama desa sekitar). Jangankan membayangkan kegemerlapan Jakarta, mendengar kata Pontianak pun mereka asing. Ironis!
Puskesmas Siding, Kab. Bengkayang
Malam itu kami istirahat di Puskesmas Siding. Gelap, tenang namun merdu karena suara serangga hutan mengiringi kami terlelap.
Esoknya Puskesmas kebanjiran pasien, mereka tampak antusias. Namun lain hal nya dengan pegawai Puskesmas yang seringkali alpa berminggu-minggu menjalankan tugas dengan alasan tempat tugas yang sangat terpencil, komunikasi yang sulit dan urusan keluarga. Memang dapat dipahami tapi tidak untuk dimaklumi.

Pasien disini sangat bervariasi, bahkan beberapa kasus yang sangat jarang ditemukan ada disini. mulai dari kasus kelainan refraksi, katarak sampai keganasan dan lainnya. Untungnya kami membawa stok kacamata gratis cukup banyak dan ada follow up dan screening bagi pasien katarak untuk dioperasi gratis di RS Bethesda, termasuk seorang gadis dengan kelainan kelopak mata yang akan dioperasi pula di Serukam. Namun ada rasa sedih juga saat kami harus memvonis seorang anak bahwa dia tidak akan dapat melihat dari sisi medis. Kontan sang ibu langsung menangis dan kami membantunya berdoa.

Pengalaman yang berkesan. Senang melihat teladan dari sejawat yang peduli terhadap orang lain di tengah sorotan masyarakat terhadap profesi dokter yang semakin tergadai dengan komersialisme.

Pengalaman yang berkesan pula dari sudut pandang : "Melihat rumput tetangga lebih hijau" karena ternyata memang itulah yang terjadi di tempat-tempat seperti Siding. Aku hanya bisa mengelus dada sambil protes, salah satunya dengan menulis artikel seperti ini berharap dapat terdengar oleh pak pejabat yang semoga selain bermulut manis namun ringan tangan dalam menjalankan tugasnya.




dr, Steve and dr. Edy in action

dr, Susi (dokter PTT Pkm. Siding), Me, dr. Steve

Masih terbayang-bayang rasa tumis pakis malam itu

Sungai di muka kampung Siding

Gunung Anggas, Siding, Kalimantan Barat

Jumat, 28 Oktober 2011

In the Middle of Honey Forest

Two Colors River inside Sumbawa Forest
Siapa tidak kenal Madu Sumbawa? 
Ya, pulau terbesar di Provinsi NTB ini punya hutan-hutan perawan yang dihuni oleh kawanan lebah. Beberapa masyarakat bahkan menggantungkan mata pencarian nya sebagai pencari madu hutan yang kadang menghabiskan waktu berhari-hari di hutan berharap mendapat rejeki semanis madu yang akan dibawa pulang.

Ternyata di balik rimbunnya hutan Sumbawa terdapat potensi Emas di dalam nya. Salah satu pertambangan emas yang telah ada di Sumbawa saat ini adalah PT. Newmont Nusa Tenggara. Kali ini aku bergabung sebagai dokter bagi PT. Vale yang bermarkas di Brazil dalam melakukan drilling untuk melakukan penilaian kandungan emas yang terdapat di daerah Humpaleu yang tertutup hutan lebat. Sayang memang bahwa perusahaan asing yang mengelola dan mengambil sebagian sumber daya alam yang kita miliki. Tapi apa mau dikata? 

Hutan Humpaleu dapat diakses dengan berjalan kaki selama 8 jam dari Hu'u atau cukup 20 menit dengan menggunakan helikopter. Untungnya opsi kedua yang aku pakai. Medan yang berbukit-bukit membuat perjalanan darat menjadi luar biasa menantang dan itulah yang menyebabkan koloni lebah madu cukup terisolir dan terlindungi  dari eksploitasi besar-besaran.

Kamp yang sederhana di hutan, beserta kru yang hangat membuat pengalaman ku di tempat ini menjadi sangat berkesan. Latihan fisik tiap hari mengunjungi kamp-kamp pekerja yang tersebar juga kuanggap sebagai olahraga (kapan lagi bisa trekking sambil menikmati hutan alami plus memperbesar betis?).

Sungai-sungai kecil mengalir di dasar hutan dan dihuni udang sungai dan sejenis belut yang penduduk lokal namai dengan Moa. Malam hari adalah saat yang tepat untuk berburu dua sumber protein tersebut. cukup bermodal senter, karung dan mata yang jeli untuk melihat pendaran warna merah yang berasal dari pantulan mata udang yang terkena senter. Cukup dengan tangan kosong dan menu udang untuk sarapan esok pagi akan tersedia dalam jumlah cukup.

Puluhan jenis ngengat hutan pun berlomba pamer setiap hari nya, bergantian nemplok di tembok kamar mandi darurat yang diterangi lampu yang menjadi magnet bagi mereka. Jumlah spesiesnya banyak. namun sayang aku tidak memfoto nya. 

Oke, selamat menikmati foto-foto ku dan artikelku yang lainnya di blog ini. terimakasih sudah mampir.
Sarang lebah

ekstrim kuliner : lebah madu sangrai

My Crew on Vale Explorasi

Camp Humpaleu Timur

On Duty : First Aid Trainning for all crew

Humpaleu Forest, Sumbawa Island

Buah liar

My Hikking Track Through Humpaleu Forest

Ini kecil, kalau malam udang nya bisa dapat besar-besar

PraMuKa

Orange Stream in the Sumbawa Jungle

Pure Forest

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...