Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 September 2013

Dieng, Keindahan Negeri Di Atas Awan


Selama aku menjelajah pulau Jawa, ada 2 tempat yang aku bilang memiliki pemandangan "epic" yang menakjubkan; 2 tempat itu adalah Bromo di Jawa Timur dan yang satu laginya adalah Dieng di Jawa Tengah. Mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang luar biasa di dua lokasi tersebut. Tuhan menciptakan 2 lokasi tersebut dengan begitu artistiknya hingga aku tak henti-hentinya kagum dan bersyukur pada Sang Pencipta.

Mungkin ada beberapa tempat istimewa lainnya di pulau Jawa yang pemandangan tak kalah memukau. Aku membayangkan Alun-alun Suryakancana (Gunung Gede, Jawa Barat) yang dipenuhi bunga Edelweiss mungkin dapat digolongkan ke dalam kategori ini (sayang aku belum sempat mengunjunginya). 

Kali ini aku ingin menunjukan keindahan Dieng melalui foto-fotoku. Aku mengunjungi Dieng pada bulan November 2012. Semua berawal dari penawaran paket promo dari media sosial tentang trip 3 hari 2 malam seharga 400 ribu rupiah ke Dieng. Termasuk murah menurutku karena harga tersebut sudah termasuk transportasi dari Jakarta ke Dieng pp, makan, penginapan dan tiket wisata. Tinggal duduk manis dan siapin uang untuk beli oleh-pleh saja (sebenernya nggak duduk manis sih, tapi duduk pegel, karena perjalanan Jakarta-Dieng sekitar 12 jam).

Perjalanan diawali dengan menyusuri Pantura kemudian kita masuk ke arah Banyumas. Dari Banyumas perjalanan berlanjut ke arah Purbalingga - Banjarnegara dan Wonosobo. Dataran Tinggi Dieng terletak di perbatasan kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Kawasan wisatanya pun sebagian termasuk dalam wilayah Banjarnegara dan dan sebagian lainnya di Wonosobo.

Suasana pegunungan dengan udaranya yang sejuk akan menemani perjalanan kita selama di Dieng. Dieng adalah daerah penghasil sayur-sayuran utama di Jawa Tengah dengan tanaman Kentang sebagai primadonanya. Karena konturnya yang berbukit, maka kentang tersebut akan ditanam berundak dalam lahan yang luas. Tak jarang, sepanjang mata memandang, kita akan disuguhi pemandangan bukit hijau yang terpahat berundak. Sangat rekomended lah pokoknya, apalagi buat yang doyan foto landscape.

Objek wisata di Kawasan Wisata Dieng adalah Telaga Warna, Kompleks Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan Sikunir, Telaga Merdada, Museum Kailasa, Dieng Plateau Theatre dan berburu matahari terbit... Banyak toh, jadi dijamin gak bosen.

Untuk masalah oleh-oleh juga tak perlu kuatir. Banyak pilihan oleh-oleh mulai dari keripik kentang, keripik jamur, carica, kentang merah, purwaceng, dan beraneka macam produk olahan perkebunan. Bagi anda yang gemar wisata kuliner bisa mencoba Mie Ongklok ala Wonosobo ditemani oleh sate. 









Tieng View Point
Perkebunan Kentang di Dataran Tinggi Dieng
Dieng Plateau
Peta Kawasan Wisata Dieng

Rabu, 28 Agustus 2013

Gunung Inerie, Piramid Alam dari Flores


Gunung Inerie adalah salah satu objek wisata yang dimiliki oleh Pulau Flores. Gunnung ini terletak di Kabupaten Ngada dan merupakan objek dominan yang menghiasi horizon di Kampung Bena. Namun spot terbaik untuk melihat gunung ini dari kejauhan ada di Aimere yang terletak di selatan kota Bajawa. Dari sini kita akan melihat Gunung Inerie sebagai piramid dengan sisi yang benar-benar lurus dengan puncaknya yang tajam, Persis gambar gunung sewaktu kita masih SD

Mount Inerie, Flores
Gunung Inerie yang nampak seperti piramid bila dilihat dari Aimere
Aku sendiri tidak ke Aimere saat itu, cukup menyaksikan dari Kampung Bena saja keindahan gunung yang satu ini. Dari Kampung Bena, gunung ini tetap nampak gagah dengan bagian lereng yang sedikit gundul namun semakin di puncak terlihat hutan yang cukup lebat. Lereng gunung ini memang dimanfaatkan penduduk lokal untuk berkebun.

Gunung ini masih aktif dan terakhir meletus tahun 1970 dengan ketinggian 2245 meter. Bila kemarau tiba pada sekitar bulan Juli-Agustus biasanya banyak pendaki yang mencoba menaklukan puncak lancipnya. Katanya sih cukup 3 jam mendaki maka anda dapat tiba di puncak dan menikmati sunrise yang indah di balik perbukitan yang berlapis-lapis (karena kontur Kabupaten Ngada aku perhatikan memang layaknya kertas kusut yang sangat tidak rata). Pendakian bisa dimulai dari Bajawa atau Watumeze dengan memanfaatkan jasa pemandu lokal.

Di puncak, kita akan disuguhkan pemandangan kota Bajawa di barat laut, dan memandang birunya Laut Sawu di selatan gunung ini. 

Gunung Inerie dilihat dari Kampung Bena
Gunung Inerie dilihat dari Kampung Bena
Gunung Inerie dilihat dari Kampung Bena
Kampung Bena, Kabupaten Ngada, Flores-NTT
Kampung Bena, Kabupaten Ngada, Flores-NTT
Kampung Bena, Kabupaten Ngada, Flores-NTT

Related Articles :
Kampung Bena
Yang Unik dan Menarik di Kabupaten Ngada, Flores
Pemandian Air Panas Mengeruda, Soa - Ngada

Selasa, 08 Januari 2013

FAJAR dan senja



Fajar dan senja adalah saat favorit bagiku untuk mengabadikan keindahan langit melalui semburat warna-warninya. Walau pun warna langit fajar tak sedramatis senja, namun kehadiran fajar sering dikaitkan dengan harapan, semangat, kebangkitan dan hal-hal positif. 

Berbeda dengan senja, untuk mengambil foto-foto fajar seringkali membutuhkan "pengorbanan" untuk bangun lebih pagi. Apalagi tempat favorit untuk ku dalam mengambil foto-foto fajar adalah saat menyaksikan matahari terbit dari puncak gunung. 

Lokasi terbaik yang pernah kukunjungi saat menangkap momen fajar melalui kamera adalah di Bromo. Pemandangan ala lukisan terhampar dihadapan mata. Ditambah lagi mendadak aku kangen matahari secara luar biasa pada saat itu karena suhu di Bromo yang dinginnya minta ampun saat subuh. Fajar pagi hari itu benar-benar merupakan obat manjur untuk mengatasi dingin yang menusuk tulang dan untuk memuaskan rasa penasaranku menyaksikan keindahan Bromo Tengger dan Semeru.

Bersama postingan kali ini saya tampilkan beberapa foto Sunrise yang sempat tertangkap kameraku dari beberapa lokasi.

Fajar di Danau Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Timur
Menyaksikan fajar dari Dieng dengan pemandangan Gunung Sindoro 
Sang Fajar, Dataran Tinggi Dieng
Fajar di Puncak Penanjakan, Bromo
Sunrise from Mt. Penanjakan, Bromo
Fajar di Angkor Wat, Kamboja
Sunrise in Glory Cruise in Ha Long Bay, Vietnam
Wat Arun, Bangkok. Temple of the Dawn
Related Articles :

Minggu, 01 Juli 2012

Danau Linow, Minahasa



Siapa bilang Sulawesi Utara hanya terkenal dengan pantai dan keindahan bawah lautnya? Provinsi ini juga kaya akan keindahan alam lainnya, salah satunya Danau Linow di Minahasa. Danau ini unik karena terlihat berwarna-warni.

Danau seluas 34 hektar ini merupakan lokasi favorit masyarakat setempat. Selain warna-warni danau yang indah, alam sekitarnya pun cantik. Burung-burung belibis (ada yang menyebutnya itik liar) terbang rendah sambil sesekali berenang di permukaan air.

Lalu apa yang membuat danau ini memiliki beberapa warna yang berbeda? Ternyata danau ini terbagi menjadi dua sisi. Salah satu sisi memiliki kandungan belerang yang tinggi, sementara sisi yang lain tidak. Kandungan belerang ini, ditambah dengan efek cahaya matahari mampu membuat danau seolah-olah memiliki warna yang berbeda.

Sejak tahun 2006 pihak swasta membangun taman di pinggir danau — dengan tiket masuk Rp 25.000 per orang. Harga tersebut sudah termasuk kopi dan kue kelapa yang disediakan pengelola. Taman pinggir danau sebagian besar terdiri dari rumput yang terawat rapi, tempat duduk-duduk, serta kafe. 

Sebuah jalan setapak dibangun di pinggiran bagi pengunjung yang ingin berjalan-jalan, maupun untuk mereka yang ingin berolahraga lari.

Para pengunjung biasanya duduk-duduk di pinggir danau sambil menikmati pemandangan Linow yang hijau kebiruan. Di sisi lain terlihat warna biru keputihan. Dari sisi lain warna danau terlihat berbeda.


Danau Linow ini berada di Desa Lahendong, Tomohon. Bila ingin berkunjung ke danau ini paling ideal adalah menyewa mobil karena dapat mengunjungi beberapa objek wisata sekaligus. Bila ingin hemat, Anda dapat naik angkutan umum dari Terminal Tomohon, namun harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 700 meter.  Dari kota Manado hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai danau.





Related articles :

Jumat, 13 April 2012

Nunbena, a traditional highland village of NTT



Desa Nunbena, Kecamatan Nunbena, Kabupaten Timor Tengah Selatan


Nunbena adalah nama sebuah Desa dan Kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Tidak ada yang terlalu istimewa dari desa ini, roda kehidupan penduduknya berputar layaknya desa-desa pegunungan lainnya di TTS. Penduduknya bergantung pada sektor perkebunan, menenun, berternak, yahhh layaknya suasana pedesaan pada umumnya.

Terdapat pasar di Desa ini, namun hanya buka seminggu sekali dengan barang dagangan yang kurang variatif dan jumlah pedagang yang tidak terlalu banyak. Yang diperjual belikan mulai dari "makanan pokok" orang NTT, yaitu sirih pinang, benang berwarna-warni dalam gelondongan besar untuk menenun, hewan ternak, barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun, minyak kelapa, minyak tanah dan segala tetek bengeknya. Nampak sebagian besar yang ditemukan disini adalah barang kebutuhan primer yang dibawa oleh penduduk lokal dan pedagang yang datang dari kota menggunakan Truk.

Pasar Tradisional ala NTT di Nunbena

Nunbena terletak di daerah perbukitan dengan jalan naik turun serupa dengan Fatu Ulan. Cukup miris memang melihat seorang nenek menggendong barang jualannya melewati daerah berbukit sejauh beberapa kilometer demi berharap barang tersebut laku dijual. Mungkin tak banyak uang yang dapat diperoleh, atau bahkan uang tersebut akan habis karena dia akan membelanjakannya untuk membeli keperluan lain.

Aku berasa seperti terlempar beberapa dekade ke belakang saat berada di Nunbena, kesan tradisional, alami, etnik, membuatku penasaran dan menjelajahi pasar ini yang tak sampai 5 menit sudah habis kulewati dari ujung ke ujung. Udara yang sejuk dan berkabut dihiasi bukit-bukit padang rumput menghijau  membuat segala sesuatunya menjadi menarik untuk dipandang mata dan terekam dalam ingatan

Pemikiran masyarakat disini nampak tak sekompleks masyarakat di kota besar yang saling berlomba-lomba membeli gadget terbaru karena takut ketinggalan jaman, handbag seharga puluhan juta untuk menunjukan status sosial, krim anti keriput demi menjaga penampilan. Terlalu ekstrim memang bila dibandingkan, namun sekali-kali orang kota perlu dibawa ke tempat seperti ini untuk memperlambat pacing nya sehingga lebih relax, lebih berempati dan kadang memperoleh pencerahan dan cara berpikir lebih jernih tentang hidup dan kehidupan.

Setelah melewati pasar tersebut, ambulance ku berjalan terus maju sampai menemukan desa Nunbena dan bukit-bukit hijau diselingi jurang terjal. Lega dan puas rasanya mata ini saat melemparkan pandangan jauh ke arah perbukitan tersebu, bahkan birunya pantai Kolbano bisa terlihat dari sini. Dari sini pula aku dapat melihat betapa sulitnya membangun infrastuktur disini. Medan yang tidak rata ditambah ancaman longsor, membuat pembangunan jalan raya beraspal sulit, dan kalaupun ada akan cepat rusak. Dari bukit-bukit di kejauhan tampak guratan berwarna putih meliuk membelah bukit, dan itulah jalan berbatu yang dipakai masyarakat untuk menghubungkan desa-desa disini.

Rasanya sulit bagiku untuk kembali ke tempat ini. Namun saat-saat aku berjalan kaki menyusuri bukit-bukitnya sambil bersenandung mengucapkan syukur pada Tuhan akan kukenang. Saat itu aku hanya duduk di tepian jurang, sambil duduk mengarahkan pandang ke arah lautan, menyalakan MP3 player dan melihat awan-awan bergerak berkejaran tertiup angin kencang. Tak banyak yang kulakukan, hanya duduk, diam, menarik nafas panjang dan menikmati setiap menit yang tak akan terulang kembali di Nunbena.

Kolbano dan Laut Timor nampak di kejauhan
Pemandangan yang terhampar luas dilihat dari Nunbena
Pasar Mingguan di desa Nunbena
Kain Timor; Yang coklat adalah motif khas daerah Boti dari Kab.TTS

Nunbena Green Hills
Jalan yang meliuk dan nampak seperti garis putih membelah bukit
Rumah Lopo khas NTT
Highland School (in Fatu Ulan)
Another beautiful village : Fatu Ulan
Nusa Tenggara Timur
 Related articles :
Fatu Ulan the misty forest
Kolbano, the white stone beach
Fatu Ulan the misty land [photo gallery]
Kampung Bena
Aerial photography part 6 : Nusa Tenggara Timur

Jumat, 06 Januari 2012

Aerial Photography Part 3 : Ring of Fire (Javan Mountains)


Tanggal 25 Juni 2011, Langit biru cerah pada hari itu. Aku bersiap pada pagi hari di Bandara Soekarno Hatta untuk terbang menuju Denpasar.

Memesan untuk duduk di dekat jendela saat naik pesawat sepertinya sudah menjadi kebiasaanku tiap kali check in. Memandang warna biru terhampar luas melalui jendela pesawat akan lebih menyenangkan dibanding membaca atau tidur di pesawat (kecuali kalau memang sudah ngantuk banget).

Pesawatku terbang pukul 8 pagi, Sesaat setelah lepas landas seperti biasa nampak pemandangan megah, ruwet dan padat ala Jakarta terhampar di bawahku. Langit benar-benar cerah hari ini, luar biasa jernih dan aku duduk di jendela yang kinclong pula. Setelah keluar dari kawasan Jakarta pemandangan semakin menggoda dan aku mulai mengeluarkan kameraku untuk memfoto puncak-puncak pegunungan yang menyembul teraduk-aduk dengan awan. 

Hari tersebut juga aku sangat beruntung karena pesawat itu dikemudikan oleh pilot yang bergaya ala tour guide. Betapa tidak, setiap kali dia menemui spot unik dia akan membunyikan tombol "attention please" dan mulai menyebutkan pemandangan apa yang bisa kami lihat dari jendela pesawatku. Dan beruntungnya, aku duduk pada sisi jendela yang tepat. Ciremai, Merapi, Merbabu, Sindoro, Bromo, Semeru nampak dengan jelas tiap kali pilot membunyikan tanda pemberitahuan  dan berkata ; "Dari jendela anda di sebelah kanan anda dapat melihat Gunung Semeru beserta Gunung Bromo, Gunung Semeru merupakan gunung tertingi di Jawa......". Saat itu Bromo sedang dalam kondisi yang cukup aktif dan dari udara terlihat asap panjangnya mengepul dan jelas terlihat.

Setiap melewati spot unik, maka pilot itu akan bergaya tour guide dan membuat perjalanan hari itu menyenangkan dan terciptalah foto-foto Aerial Photography Part 3 : Ring of Fire (Javan Mountains). Selamat Menikmati!

 Pasundan (Jawa Barat)

Puncak Tertinggi di Jawa Barat : Gunung Ciremai (Cirebon, My Hometown)

Blue Paradise

Merapi, Merbabu, Sindoro

Javan Ring of Fire

Nice Flight, Clear Sky, Just Perfect

Bromo on Eruption

Bromo, Tengger, Semeru
 Related Articles :
Aerial Photography Part 1 : Kolbano Beach
Aerial Photography Part 2 : Tual, Maluku Tenggara
Aerial Photography Part 4 : Nusa Tenggara Barat


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...