Tampilkan postingan dengan label PTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

A Journey Through Aru Islands




Pantai Longgar
Kepulauan Aru, dari namanya kita bisa sedikit membayangkan betapa laut berkuasa disana dan menjadi akses penting dalam sistem transportasi disana. Ada lebih dari 700 pulau besar kecil di kabupaten ini dengan 119 desa tersebar di pulau-pulaunya. Kalau dilihat di peta, mayoritas pulau-pulau tersebut tampak berkumpul menjadi satu dan hanya dipisahkan oleh sungai-sungai sempit yang membelah dari barat ke timur. Kenyataannya itu bukan sungai, namun selat karena celah itu berisi air asin dengan hamparan bakau sepanjang aliran sungainya. Mayoritas desa-desa di Aru terletak di tepi laut atau selat tersebut dan membuat kapal dan speedboat menjadi alat transportasi utama di Kabupaten ini.

Kota Dobo terletak di Pulau Wamar (sebuah pulau kecil di utara Aru).
Aku bertugas selama 1,5 tahun sebagai dokter Puskesmas Longgar-Apara terletak di Desa Longgar yang berada di Pulau Workai di tenggara Aru. Apara adalah desa tetangga Longgar. Letaknya yang bersebelahan  membuat kedua desa ini selalu disebut bersamaan : Longgar-Apara. Perlu berjalanan selama 14 jam dari Dobo untuk mencapai Longgar. 



Perjalanan dari Dobo menuju desa Longgar-Apara bukanlah sesuatu yang singkat dan menyenangkan. Perjalanan kadang memakan waktu sekitar 14 jam menggunakan perahu kayu dan kadang diselingi dengan bermalam di tengah-tengah perjalanan apabila perahu kandas dalam perjalanan melewati selat sempit antar pulau atau terjadi kerusakan mesin.

Perjalanan akan diawali dengan rute Dobo-Benjina selama 3 jam. Benjina adalah "Kota" terbesar kedua di Aru, terletak di Muara Sungai (Selat) dan merupakan tempat kapal-kapal pencari ikan bersandar. Rute pertama ini cukup berbahaya untuk dilewati saat angin barat bertiup (Desember-Maret). Ombak di daerah  ini terkenal sering memakan korban bila sedang musimnya, namun akan teduh dan menyenangkan saat angin Timur bertiup (Mei-Oktober). 

Patung Yos Sudarso di Dobo
Pesisir sebelah barat Kepulauan Aru berkarakteristik pantai berpasir putih. Berbeda hal nya dengan pesisir timur dan bagian tengah yang umumnya berawa-rawa. Selama 3 jam perjalanan dari Dobo ke Benjina kita akan melihat desa-desa berpasir putih tersebar di pesisir pantai barat Aru dan Pulau Babi yang menjadi titik menyendiri yang muncul di tengah laut dan menjadi acuan navigasi. 
Lobster, Salah satu hasil laut dari Desa Tabarfane di Pesisir Barat Aru
Pantai Pulau Babi
Pulau Babi
Setelah melewati Benjina pemandangan akan berubah. Hamparan hutan bakau berderet bagai sabuk yang tak terputus sampai kita keluar di muara selat di sisi lainnya di daerah Koba. Perjalanan selama kurang lebih 6 jam membelah pulau disuguhi dengan hijaunya hutan bakau, pulau-pulau kecil di tengah sungai, buaya yang sedang berjemur di batu.  Hutan Bakau dan Hutan di Aru menjadi rumah bagi Rusa, Babi Hutan, Kasuari, Kanguru, Ayam hutan dan beragam burung dengan cendrawasih sebagai primadona nya.
Burung Cendrawasih
Dari tampilannya secara fisik, selat-selat ini memang menyerupai sungai. Namun air di celah ini asin. Ada 4 selat sempit utama di Aru dan semuanya membelah sempurna menghubungkan sisi barat dan timur Aru. 4 Selat itu adalah Sungai Kola di daerah utara, Sungai Manumbai (yang terpanjang), Sungai Workai (sungai yang kulalui untuk menuju Longgar-Apara) dan Sungai Maekor. Ada juga sungai Lorang yang menghubungkan Sungai Maekor dan Workai.

Gereja di Desa Lorang
Selat-selat sempit ini menjadi suatu kekhasan bagi Aru dan menjadi solusi untuk menghubungkan pesisir barat dan timur. Selat ini berarus dan memerlukan pangemudi yang handal untuk bisa lolos dari jebakan seperti kandas, menghindar dari batu besar di dasar sungai dan tersesat. Dari Benjina kita akan melewati Batu Bendera (salah satu titik acuan navigasi) dan desa-desa sepanjang aliran sungai seperti Wardakau, Lorang, Manjau, Kwarbola, Murai, Ponom dan lainnya. Keseluruhan desa tersebut terletak di tepi Sungai Workai. Bila telah melewati Ponom, maka selat sempit tersebut akan melebar dan pulau-pulau di bagian tenggara Aru yang berhambur mulai bisa terlihat karena kita telah berada di pesisir timur Kepulauan Aru. 

Desa-desa di muara sungai Workai bagian Timur merupakan desa penghasil udang (desa Ponom, Wailay, Kaiwabar, Kwarbola, Murai, dll). Pada bulan-bulan tertentu udang akan melimpah ruah memenuhi sungai ini. Hal ini wajar mengingat masih terjaganya hutan bakau sepanjang sungai yang berfungsi sebagai tempat udang berkembang biak. Udang Tiger dan jenis lainnya dapat diperoleh dengan mudah tanpa ditambak. Stok yang melimpah membuat Dobo kebanjiran udang kering ukuran besar pada waktu-waktu tertentu.

Setelah melewati muara sungai, perjalanan dilanjutkan ke Arah Koba. Perahu akan melewati celah sempit serupa gerbang dengan dua desa berhadapan : Desa Kobadangar dan Koba Seltimur. Dari kejauhan kita bisa melihat menara gereja di Koba Seltimur berhadapan dengan kubah Mesjid di Kobadangar. Banyak peternakan rumput laut disini. harus hati-hati jika melewati daerah ini agar baling-baling kapal tidak memotong tali pengikat rumput laut.

Kobadangar terletak di Pulau Baun. Terdapat area konservasi di Pulau Baun untuk melindungi burung-burung cendrawasih dan hewan-hewan liar agar tetap terjaga dan seimbang.  Cendrawasih di Aru terkenal dengan warna bulu ekornya yang kuning cerah dan konon lebih cantik tampilannya daripaada Cendrawasih di Papua. Cendrawasih ini digunakan sebagai hiasan kepala pada upacara-upacara adat dan penyambutan tamu kehormatan. Sayang memang, burung cantik yang dilindungi ini memang masih terus diburu.

Setelah melewati Koba kita akan melihat Pulau Workai. Ada 4 Desa di Pulau Workai ini yaitu Mesiang, Longgar, Apara dan Bemun (3 desa terakhir merupakan wilayah kerja Puskesmasku). Longgar, Apara dan Bemun terletak di Selatan Pulau Workai, Sedang Mesiang terletak berhadapan dengan Gomo-gomo di Utara Pulau Workai. Mesiang memiliki Puskesmas sendiri, namun aku cukup sering mengunjunginya karena teman dekatku yang bertugas disana.


Puskesmas Mesiang
UKS di Desa Bemun
Puskesmas Longgar-Apara
Longgar dan Apara berdiri di tepi tebing-tebing karang berwarna putih, Longgar-Apara merupakan Desa terbesar di Wilayah Selatan Aru dan merupakan kota dagang bagi wilayah sekitar. Rumput laut, sirip hiu, teripang, mutiara, ikan segar, Kopra, merupakan penggerak roda perekonomian disini. Pada musim tertentu, nelayan dari Karey dan Gomar datang ke Longgar untuk membawa Abalone  (sejenis tiram yang bernilai ekonomis tinggi)
Kerang Mutiara, salah satu hasil laut andalan Longgar-Apara
Foto Bersama ibu Kader Posyandu Desa Longgar di Depan Puskesmas
Selain sebagai pusat perdagangan, desa dengan penduduk 3000an jiwa ini (Longgar dan Apara) merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Aru Tengah Selatan. Terdapat 1 SMP, 2 SD di desa ini, 1 Puskesmas Rawat Jalan, 2 Gereja dan 2 Mesjid di Longgar dan Apara. Mendengar nama kedua desa ini sangat berarti bagiku, karena selama menjadi dokter disana aku belajar banyak tentang Manajemen Kesehatan (karena aku menjadi kepala Puskesmas disana), Ilmu medis, persahabatan dan belajar tentang kehidupan.


Desa Apara
Related Article :
Longgar & Apara ; 2 desa di tepian Indonesia
Salarem, Grand Canyon nya Maluku
17 Agustus 2009
Hymn to the Sea and Sky

Kamis, 10 November 2011

Salarem, Grand Canyon nya Maluku

Salarem
Kepulauan Aru adalah tempatku mengabdi sebagai dokter PTT. Aku bertugas selama 6 bulan di Puskesmas Batugoyang dan 1,5 tahun berikutnya di Puskesmas Longgar-Apara. Puskesmas Batugoyang adalah Puskesmas Rawat Jalan dengan wilayah kerja yang cukup sempit, hanya 3 desa saja (Desa Batugoyang, Salarem dan Dosimar).

Sebulan sekali kami mengadakan Puskesmas Keliling (Pusling) ke Dosimar maupun Salarem. Bila angin timur bertiup di Aru (sekitar bulan Juni sampai Desember) maka perahu kami akan sukar merapat ke Salarem karena desa ini tidak memiliki dermaga. Solusinya adalah : "Kami berjalan kaki dari Batugoyang ke Salarem". Memang sedikit menderita, apalagi kami harus membawa obat-obatan, timbangan badan, bubur dan biskuit untuk anak yang kurang gizi dan perlengkapan pribadi.

Perjalanan jalan kaki dari Batugoyang menuju Salarem ditempuh dalam 2,5 jam menyusuri pasir putih dan 2 buah sungai yang bermuara ke laut. Sedang jika kita naik katinting (perahu kayu kecil yang bermesin) maka hanya dibutuhkan waktu setengah jam. Salarem dan Batugoyang adalah desa yang bertetangga. Dari Batugoyang kita dapat melihat bukit-bukit merah Salarem dengan cukup jelas. Salarem memang terkenal dengan bukit-bukit merahnya yang berbaris sepanjang tepi pantainya.

Salarem & Batugoyang terletak di titik terselatan Kepulauan Aru
Penari Tambaroro dari Salarem
Gereja di Salarem
Pusling dan Posyandu di Salarem
Uniknya jika kami akan melakukan Pusling ke Salarem dengan berjalan kaki, maka kami harus memperhitungkan pasang surut air laut. Akan bahaya jika berjalan menuju ke Salarem saat air pasang dan ini alasannya :

  1. Karena salah satu sungai yang kami akan lewati cukup dalam dan katanya ada buaya nya ckckck. Semakin pasang air laut, maka air yang biasa hanya setinggi betis atau pinggang bisa jadi setinggi dada atau berenang (alias lewat kepala). Sedangkan kami harus memastikan obat, biskuit, baju kami tetap kering, lagipula tidak ada yang bisa menjamin bahwa kami tidak ditemani sang reptil saat kami beraksi mengapung dengan gaya katak.
  2. Kita harus menghindari air pasang karena pesisir pantai menuju ke Salarem seolah dipagari oleh "dinding" merah vertikal memanjang. Sehingga harus berjalan saat surut agar tidak terjebak antara dinding merah dan laut jika pasang tiba (kecuali kalau kita pusling dengan Spiderman yang bisa nemplok di dinding merah Salarem)
  3. Dan ini alasan terpenting: Bila air sedang pasang, kita akan kehilangan momen untuk berfoto-foto dengan dinding merah Salarem yang terpahat indah. Hahaha itulah sebabnya baik perjalanan datang maupun pulang harus dilakukan sewaktu air surut.
Aku mempercayakan perhitungan pasang surut pada perawatku yang memang sudah ahli. Oh iya, di Puskesmas Batugoyang semua perawatnya perempuan, sehingga porsi bagasi ku juga cukup mantap untuk diangkut di punggung.

Perjalanan diawali dengan berjalan menuju pantai timur Batugoyang, butuh sekitar 40 menit jalan kaki untuk mencapai Marjugir (Sungai pertama dan dikelilingi rawa). Sedapat mungkin kami menyebrang di muara sungainya dekat laut yang melandai dengan dasar pasir putih. Hindarilah melewati sisi rawa nya yang serupa kolam lumpur walaupun kita bisa berburu kepiting-kepiting besar disana, karena bisa jadi kita selain berburu juga diburu oleh buaya disana. Bila laut sedang surut ketinggian air paling hanya sebetis sampai paha, tapi jangan coba lewat kalau pasang naik tiba.

Setelah berbasah-basah ria di Marjugir, maka kami melanjutkan perjalanan sampai menemukan sungai kecil kedua (Sirgway Jugir). Inilah batas antara Batugoyang dan Salarem. Sungai kecil itu seolah adalah "Papan Selamat Datang" menuju pemandangan indah yang akan kami nikmati sepanjang acara jalan kaki ke Salarem.

Sungai kecil Sirgway Jugir (yang ini dangkal dan tidak berbuaya)



Salarem, Kepulauan Aru

Merah di kiri, kuning di bawah dan biru di kanan. Itulah warna-warna yang akan menemani kita sepanjang perjalanan menuju Salarem. Perbukitan merah ala Grand canyon menjulang gagah setinggi 50 meter di kiriku. Pasir putih kekuningan dengan batu merah terhambur terhampar di bawah sebagai alas kakiku. dan disebelah kanan aku ditemani ombak dan birunya Laut Arafura yang kadang mengganas.

Perjalanan yang normalnya tinggal satu jam lebih bisa ngaret hingga dua kali lipat akibat keasikan foto-foto dan lupa Pusling. Apalagi jika ternyata air surut jatuh pada sore hari, kita bahkan piknik sambil istirahat disini. Lain halnya kalau surut jatuh pada tepat tengah hari maka perjalanan akan menderita hahaha.

Jika kita melihat langsung tebing di Salarem, yang pertama kita ingat adalah Grand Canyon. Walaupun tidak berliku-liku dan hanya berjajar seperti pagar di pesisir, namun kadang kontur tebingnya menyerupai candi-candi yang tenggelam di bebatuan merah tersebut. Kadang warna hijau tanaman tikar membuat gambaran kontras dengan latarbelakang merahnya tebing di sana.

Salarem terletak di atas tebing-tebing merah tersebut. Merupakan sebuah desa dengan jumlah penduduk 700an (th. 2007). Hampir 80% penduduk desa ini beragama Katolik, sisanya Protestan. Karena pesisir pantainya yang cenderung kurang bersahabat dan berombak kencang maka sektor perikanan kurang dominan di sana. Mereka cenderung berkebun, memangkur sagu dan berburu di hutan. Hasil kebun dan laut mereka bawa dan jual ke Meror, yang merupakan ibukota kecamatan. Roda perekonomian kurang berputar di desa ini bahkan banyak penduduknya yang bisa kita golongkan sebagai masyarakat miskin.

Kunjungan pasien saat kami Pusling di tempat ini cukup tinggi. Selalu di atas 50 pasien dan belum termasuk Posyandu, sehingga kami harus menginap di rumah kepala desa tiap kami turun Pusling karena kelelahan. Malaria merupakan penyakit yang lazim kami tangani saat Pusling dan angka kurang gizi di tempat ini cukup banyak.

Sebenarnya dari sisi pariwisata, daerah ini sangat berpotensi. Namun aksesnya yang sulit menjadi kendala yang besar. Dari peta dapat kita lihat bahwa Salarem terletak sangat jauh dar Dobo (ibukota dan pintu gerbang transportasi ke Aru). Diperlukan sekitar 14 jam perjalanan laut menggunakan kapal kayu untuk meraihnya. Dengan speedboat, mungkin dapat ditempuh dalam 4 jam. Kondisi kepulauan dan tanah yang berawa menyulitkan bagi pembangunan akses jalan darat di kabupaten ini. Transportasi laut masih menjadi moda transportasi andalan di Kabupaten ini yang menghubungkan desa-desa sepanjang pesisir pantainya.

Dengan tebing-tebing merahnya yang menjulang memanjang sejauh mata memandang,  jika seorang bertanya padaku : "Selama PTT di Aru mana desa yang paling indah pemandangannya?" Tanpa pikir panjang aku akan jawab : "Salarem". 
Perbandingan ukuran manusia dengan bukit merah Salarem



Me, in Salarem


Related articles :
Longgar dan Apara -2 Desa di Tepian Indonesia-
Hymn to the Sea and Sky 

A Journey Through Aru Island

Senin, 07 November 2011

Pangkur Sagu

Bapangkur menggunakaan Nani dan Dedagam
Apa makanan pokok orang Maluku dan Papua??? dan anak-anak SD itu pun serentak menjawab "Sagu". Ya, memang benar, sebagian wilayah di Maluku dan Papua masih mengandalkan sagu sebagai makanan pokoknya walau saat ini sudah sebagian tergantikan dengan beras. Namun apa itu sagu? Berasal dari tanaman apakah sagu? Bagaimana wujudnya? Apa rasa nya? Semua nya terjawab saat aku tinggal di Maluku selama 2 tahun.

Aku bertugas sebagai dokter PTT di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Aku mengabdi di sana pada tahun 2007-2009. Cukup menantang dalam menjalani proses adaptasi di Maluku. Namun saat-saat PTT tersebut merupakan moment terkaya dan takkan terlupakan.

Puskesmas Batu Goyang
Batu Goyang merupakan nama Puskesmas pertamaku di Kepulauan Aru. Aku bertugas disana selama 6 bulan dan selanjutnya pindah ke Puskesmas Longgar-Apara dan bertugas disana 1,5 tahun lamanya. Dua Puskesmas tersebut terletak di bagian selatan Aru dan digolongkan ke daftar Puskesmas terjauh dari ibukota Aru : Dobo.

Penduduk di Batugoyang masih hidup secara tradisional. Mereka mengandalkan laut sebagai mata pencahariannya. Sesekali mereka berburu rusa atau babi hutan dan pada saat-saat tertentu mereka pergi ke hutan untuk pangkur sagu.

Pangkur sagu adalah serangkaian proses pengolahan yang dilakukan untuk mendapatkan tepung sagu. Mulai dari pemilihan pohon sagu yang sudah cukup umur, menebangnya, memangkurnya dan meramas sampai menjemur untuk mendapatkan tepung sagu.

Belum genap seminggu aku berada di Batugoyang aku mendengar pengumuman di gereja bahwa akan diadakan kerja bakti pangkur sagu yang uangnya akan digunakan untuk kas gereja. Tak sabar aku menunggu hari itu tiba, karena aku sendiri penasaran dengan pangkur sagu sekaligus ingin kumanfaatkan sebagai ajang mencari kawan dan perkenalan dengan penduduk desa tempatku bertugas.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Sekitar jam 7 pagi kami semua sudah bersiap menuju dusun (sebutan mereka untuk kawasan rumpun sagu berada). Kami berjalan menyusuri pantai berpasir putih ditemani sekelompok burung Talang yang terbang dengan sayap yang mengembang lebar. Tak lama kemudian kami berbelok melintasi padang rumput bersemak untuk masuk ke dalam hutan.

Habitat pohon sagu (Metroxylon sago Rottb.) adalah di rawa-rawa. Biasanya tumbuh dengan sendirinya dan berkerumun dalam kelompok. Pohon sagu menyukai lingkungan yang berair, sehingga sering digunakan oleh penduduk lokal sebagai indikator untuk mencari sumber air. Apabila masyarakat hendak membuat sumur, maka mereka mencari tempat dimana pohon sagu tumbuh.di sekitar kampung mereka dan menggalinya disitu.

Kami telah menerobos hutan, mengarungi sungai-sungai kecil sampai benar-benar berada di rawa tempat 4 pohon sagu yang akan kami pangkur hari itu berada. Pohon Sagu termasuk golongan tanaman palem, memiliki pelepah yang berduri dan batang yang cukup kokoh dan tegak. Sagu yang biasa dikonsumsi masyarakat Maluku berasal dari bagian batangnya yang akan dihancurkan dan diambil pati nya. Sagu yang akan dipangkur harus telah cukup tua yang ditandai dengan telah keluarnya pucuk bunga pada bagian mahkotanya.

Pekerjaan awal dimulai dengan merubuhkan pohon sagu. Kemudian dilakukan pengupasan kulit pohon bagian terluar sehingga terlihat bagian dalam dari pohon sagu yang berwarna putih dan cukup empuk layaknya pohon palem-paleman. Semua dilakukan secara bergotong-royong dan menggunakan peralatan tradisional.

Batang yang telah terkupas tersebut kemudian dipukul-pukul dengan Nani agar hancur menjadi seperti serbuk kayu kasar (Ela). Nani adalah kayu dengan lempeng besi berbentuk cincin di ujungnya. Ia dikaitkan dengan Dedagam sebagai tongkat pemegang. sehingga kalau disatukan keduanya tampak seperti kayu bersiku 90 derajat namun bertali. Ujung lempeng besi pada nani berguna untuk melumatkan kayu sagu. Perlu waktu beberapa hari untuk menghancurkan keseluruhan batang sagu itu menjadi Ela.

Selagi menghancurkan batang sagu menjadi ela, beberapa orang beburu dan yang lainnya membuat Rungut dan menjahit Goti. Goti adalah semacam saringan yang terbuat dari serabut anyaman pada sela-sela pohon sagu. fungsi goti dapat digantikan oleh kain. Goti kemudian dijahit di salah satu ujung pelepah sagu, fungsinya persis seperti saringan. Sedang Rungut adalah pelepah sagu yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk saluran mulai dari tempat memeras sagu hingga tempat menadah endapan sagu. Semua perlengkapan untuk pangkur dibuat dengan bahan yang berasal dari pohon sagu itu sendiri mulai dari pelepah, serabut antar pelepah, daun (yang akan dijadikan pembungkus tumang), bahkan duri pohon sahu mereka gunakan layaknya paku untuk menyambung pelepah membentuk rungut. 

Bila ela sudah terkumpul cukup maka dilakukan pemerasan. Ela dicampur dengan air, kemudian diremas hingga keluar pati sagunya. Biasa proses memangkur sagu dilakukan di dekat air karena proses ini membutuhkan banyak air. Pada saat itu mereka menggunakan air rawa sekitar untuk dicampur dengan ela dan diremas, sehingga rentan terhadap kontaminasi dan kotoran. Pemerasan ela dilakukan berulang hingga air perasan berwarna agak jernih. Air pati tersebut tersaring saat melewati goti dan mengucur ke Rungut. Di rungut, air tersebut akan mengendap dan air jernih di atas endapan tersebut akan terdorong dengan air remasan ela yang baru. begitu seterusnya berulang-ulang.

Seekor Kangguru hasil buruan saat pangkur sagu
Endapan yang terkumpul di Rungut tersebut kemudian didiamkan sejenak hingga cukup kaku dan agak mengering. Satu proses talah selesai. mereka memasukkan sagu endapan yang masih agak basah ke ember-ember yang terbuat dari daun sagu dan dinamai Tumang. Yang dilakukan selanjutnya adalah membiarkan air dari tumang itu menetes keluar sehingga tumang menjadi padat. Atau menghamparkan isi tumang tersebut untuk dijemur agar diperoleh tepung sagu. Dan selesailah rangkaian pembuatan sagu.

Tumang
Sagu yang telah dihasilkan dapat diolah menjadi beberapa jenis makanan. Umumnya mereka membuat papeda sebagai makanan pokok mereka. papeda dibuat dengan melarutkan tepung sagu ke dalam air mendidih hingga terbentuk lem. Biasa papeda disajikan dengan ikan kuah asam atau makanan berkuah lainnya untuk mencegah papeda melekat pada dasar piring. Perlu gata-gata atau dua batang seperti sumpit untuk mengambil papeda. Dengan gerakan memutar seperti memintal maka lem itu dapat diangkat dari mangkuk untuk dihidangkan ke piring yang telah berisi ikan kuah asam. Rasa nya kenyal dan sedikit masam dan segar berkat kuah ikannya. Telanlah langsung papeda tanpa mengunyah nya, karena memang begitulah cara memakannya.
Papeda, Olahan Sagu yang menjadi makanan pokok Maluku dan Papua
Papeda, Ikan Kuah Asam, Colo-colo, Sayur Bunga pepaya  (Maluku banget tuh)

Makanan pokok dari sagu yang aku suka adalah Senoli. Terbuat dari kelapa dan sagu, kemudian disangrai sampai terbentuk gumpalan-gumpalan liat yang kecil. Setelah matang senoli dihambur dengan sedikit gula pasir dan dimakan dengan ikan bakar. Senoli bertekstur kering tidak seperti papeda yang lengket. Rasa manis dan gurih nya senoli ditambah bau hangus akibat disangrai memang sangat cocok untuk disantap bersama ikan bakar. 

Sagu juga dapat dibuat menjadi kue pompom yang kering. caranya dangan memasukan sagu tersebut ke pipa besi khusus lalu dipanaskan lalu dipotong memanjang menjadi 6 bagian. Pompom sangatlah keras, biasa disajikan saat sarapan dengan dicelup air teh manis atau kopi agar dia mengembang dan melunak. Rasanya tawar. 

Sagu biasa dijual dan ditemui dalam bentuk lempeng atau dalam ukuran per tumang. Di Aru yang terkenal adalah penjualan dalam wujud tumang, namun di Ambon sepertinya sebaliknya.

Namun ada mitos bahwa sekali makan papeda Aru maka akan melekat dan teringat dengan tanah Aru, Dan setidaknya terbukti saat aku menulis artikel ini, aku antusias, rindu dan masih mengingat jelas karena sebagian hatiku masih tertempel di tanah Maluku oleh lengketnya papeda. Jadi silahkan dicoba menikmati makanan khas Indonesia Timur ini.

Pangkur Sagu oleh Penduduk Batu Goyang
Related article :
Longgar dan Apara -2 Desa di Tepian Indonesia-
A Journey Through Aru Islands
Beauty and the Beach : Maluku Tenggara, Pulau Ambon, Maluku UtaraAmbuyat : Bruneian's Iconic Cuisine Heritage

Sabtu, 29 Oktober 2011

Longgar dan Apara -2 Desa di Tepian Indonesia-


Puskesmas Longgar-Apara, Kabupaten Kepulauan Aru
Aku menghabiskan 2 tahun pelayananku sebagai dokter di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. 3/4 dari masa bakti tersebut kujalani di Puskesmas Longgar-Apara. Sebuah Puskesmas baru yang didirikan akibat pemekaran keecamatan pada tahun 2008. Desa Longgar menjadi ibukota Kecamatan baru Aru Tengah Selatan.

Puskesmas Longgar-Apara berstatus sebagai Puskesmat Rawat "Jalan" namun kenyataan nya kami juga merawat pasien dikarenakan jauhnya lokasi Rumah Sakit rujukan yang berada di kota Dobo. Untuk menuju Dobo diperlukan waktu 12-14 jam perjalanan laut menyusuri selat sempit, hutan bakau dan ombak yang menantang. Ya, memang letak Puskesmas kami cukup terpencil bahkan bisa dikatakan sebagai pagar negeri ini. 

Longgar dan Apara terletak di ujung selatan pulau Workai (biasa disebut Barakai oleh penduduk lokal). Di muka kampung kami terdapat Pulau Kultubai yang status nya adalah pulau terluar dari NKRI. Bukan hal aneh bahwa siaran ABC News Australia terdengar lebih jernih daripada suara RRI Tual. 

Potensi sumber daya alam kedua desa ini luar biasa. Laut di muka Longgar-Apara sangat landai, menjadikannya tempat hidup ideal bagi teripangkerang mutiara dan rumput laut yang menjadi sumber rupiah yang menopang perekonomian desa ini. abalone juga dapat ditemukan pada musim-musim tertentu dan menjadikan daerah ini sebenarnya cukup tinggi dalam standar penghasilan maupun perputaran uang. namun perputaran uang mereka sayangmya digunakan untuk membeli minuman keras. Pendidikan dianggap kurang perlu karena tidak diperlukan otak yang encer untuk mengais rejeki dari laut. 'Tak perlu sekolah tinggi untuk bameti (mencari hasil laut saat laut surut)".

Desa ini rawan terhadap kekeringan dimana pada musim kering yang panjang dapat mengakibatkan mata air-mata air yang ada mengering dan saat itulah insiden diare meningkat tajam. Puskesmas kami yang berstatus Rawat Jalan harus merawat pasien-pasien yang mengalami dehidrasi berat akibat diare. Tindakan Kaporisasi sumur dan Kesling telah diupayakan namun kejadian luar biasa tersebut kerap berulang mengingat rendahnya mutu sumber air yang ada saat kemarau panjang.

Hidup tanpa ada sinyal HP, menghabiskan malam ditemani lentera karena belum ada nya listrik dan keran air di Puskesmas yang hanya menjadi tempat jemur Lap karena tidak adanya PAM membuat semua nya sempurna hehehe. Proses detox selama 1,5 tahun berjalan sempurna. Lingkungan yang bebas polusi, makanan yang selalu fresh dari laut dan olahraga timba air setiap hari menjadikan saat-saat di Longgar-Apara menjadi "masa tersehatku" :D .

Next akan ku posting tentang aktivitas di Puskesmas dan jalan-jalan sedikit melalui foto untuk mengenal Longgar-Apara, 2 Desa di Tepian Indonesia. 

Dermaga Kayu di Apara, Tampak Pulau Terluar di Indonesia (Kultubai) di Seberang

Related Articles : 
Pangkur Sagu 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...