Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

South East Asia Noodles

Inilah beragam jenis hidangan berbahan dasar mie yang berasal dari Asia Tenggara yang pernah mampir di perutku.


Curry Noodle ala Penang Malaysia, enak nih yang ini
Pad Thai, dari namanya sudah ketahuan darimana asalnya
Thailand : Sukothai Style Noodle Soup with BBQ Pork
"Pho", Bakalan sering ketemu kalau kita ke Vietnam
Mee Mamak ala Brunei, rasanya legit asam manis dan lezat
Kolo Mee ala Brunei, seingatku rasanya cukup standar
Dari Kamboja Mie Instant ala Kamboja hahaha, Sori kayaknya nggak makan Mie pas di Kamboja
Laos style noodle. Mie nya pipih ala kuetiau tapi lebih lembut dan kuahnya ber terasi
Mie Ala Laos lainnya yang kumakan di Donsao Island, Golden Triangle
Mie Kepiting ala Pontianak, Yummy
Semangkuk Mie Kepiting khas Pontianak yang rasanya superrr
Laksa Bogor with Rice Noodle
Mie Cakalang ala Manado, paling pas dimakan pakai sambal Ikan Roa... rasanya mantap banget
Mie Ongklok ala Wonosobo-Dieng. Rasanya manis dengan kuah kental dan pas dimakan dengan sate
Mie Aceh dengan kuah kambing dan rempah dan cukup menyengat
Mie Kangkung ala Jakarta dengan  kuah kental yang manis. Varian lain mie yang patut dicoba
Tak pernah ada yang salah saat menyantap semangkuk Mie Ayam Jamur ala Bangka, Salah satu favoritku
Cui Mie Malang yang rasanya MANTAP abis
Singaporean Laksa, Yummy

Asam Laksa ala Penang dan Ais Kachang (alias Es Kacang)
Fried Wonton Noodles and Soup Wonton Noodles ala Penang, Malaysia
The legend one of Penang Cuisine : Char Koay Teow
Hokkien Noodle ala Penang
Bersama Mie Kari ala Penang dan segelas teh tarik.  Mak nyuss!


Related Articles :
Brunei Cuisines : Ambuyat, Nasi Katok
Indonesia Cuisines : Manado Cuisine, Kawok, Ayam Betutu, Papeda
Thailand Cuisines : Bangkok Street Food, Khao Neeo Mamuang
Vietnam Cuisines : Nom Bo Kho and Pho
My South East Asia Tour on February 2012 (BruneiIndonesiaSingaporeThailandVietnamKambojaMalaysia)

Minggu, 27 Januari 2013

Ekstrim Kuliner : Kawok


Pernah dengar lelucon bahwa orang Manado memakan semua yang bergerak? Coba kalau sepeda motor bisa dimasak rica-rica, mungkin sudah dimasak juga. Memang agak berlebihan leluconnya, namun ada benarnya juga, karena di Manado kita dapat menemukan masakan yang berbahan dasar daging anjing, paniki (kelelawar), kucing, ular bahkan tikus.

Saya sebenarnya kurang begitu akrab dengan hewan yang bernama TIKUS. Namun sungguh sayang nih sudah jauh-jauh sampai di Manado tapi tidak mencoba Masakan yang diolah dari Kawok (tikus hutan berekor putih).

Masakan ini pun tidak terlalu mudah ditemui di tempat kelahirannya di Sulawesi Utara. Aku harus naik ke daerah perbukitan Tinoor ke arah Tomohon dari kota Manado untuk dapat mencicipi masakan kawok yang enak menurut temanku.

Setelah tiba di restoran yang dimaksud aku mulai berkeringat dingin menantikan apa yang akan muncul di meja saat aku memesan Kawok Rica-Rica pada pelayan. Bagaimana nanti penampakannya saat terhidang di meja ku. Bagaimana jika pas wajahnya atau cakarnya yang menghadap wajahku? Bagaimana pula nanti rasanya? Pokoknya butuh nyali ekstra bagiku untuk untuk menghadapi apalagi menyantap hidangan ini. Tapi yahhhh daripada penasaran, tancap jo!

Tiba-tiba hadirlah hidangan itu, dan nampak seperti potongan-potongan daging berbalut bumbu cabai merah yang cukup tebal. Aku mulai memilih bagian yang cukup netral bagi pikiranku dan mengindari penampakan-penampakan aneh dari badan sang tikus yang sudah terbujur kaku dan berbumbu dalam mangkuk.

Ini dia tampang Kawok Sebelum dimasak, berbeda dari tikus-tikus yang ada di rumah 
Kawok masak rica-rica
Tak lupa pula tampil nasi bersantan yang dibungkus dalam daun kunyit sebagai teman memakan kawok (rasanya mirip buras dengan aroma daun kunyit). Sepotong daging kawok mulai kunikmati dan otakku mulai bekerja keras mengidentifikasinya. Rasanya tidak aneh kok, mirip ayam namun dengan tekstur lebih lembut... lebih kasar dari daging kodok. Namun tak ada bau atau rasa tajam lain dari masakan ini. Tapi tetap saja ini tidak akan menjadi masakan Manado favoritku hahaha.

Memasak kawok rica-rica mungkin sedikit lebih netral dibanding mencoba kawok yang dimasak santan. Nanti deh untuk memakan yang kuah santan, takut tidak tertelan dan jackpot. 

Harga sepotong kawok di Tinoor saat itu (2010) seingatku 7000-8000 dan harga nasi bungkus daun kunyitnya kayaknya cuma 1000 atau paling mahal 2000 per bungkus. Setidaknya rasa penasaranku lunas terpuaskan dan hari itu aku melanjutkan perjalanan menuju Tondano untuk menikmati keindahan danau terbesar di Sulawesi Utara sambil melanjutkan wisata kuliner di sana.

Related Articles :

Rabu, 10 Oktober 2012

Ayam Betutu

Ayam Betutu ala Gilimanuk, Bali

Warga Bali tentunya sudah mengenal masakan Ayam Betutu. Masakan yang konon berasal dari Gilimanuk, Bali Barat, bercita rasa lezat, gurih dan pedas. Masakan yang berintikan Ayam kampung dikukus dengan beraneka ragam bumbu lengkap. Pedas nya murni tanpa ada tambahan gula. Jika di Jawa, semua masakan mayoritas menyertakan manis sebagai penguat cita rasa, tapi di Bali, lebih
mengutamakan cita rasa bumbu yang tersaji dalam bahan makanan.

Masakan Ayam Betutu banyak dijumpai di Denpasar, tentunya dengan berbagai macam citarasa. Semua menggunakan bumbu lengkap, tetapi kekuatan rasa dari tiap-tiap warung penyedia Ayam Betutu berbeda-beda.

Gilimanuk (pulau di seberang) dilihat dari Ketapang, Banyuwangi
Ayam betutu dan pelengkapnya : Sambal terasi, sayur lalapan, sambal matah, kacang goreng
Related articles :
Manado, The Capital of Spicy and Exotic Cuisine
Aerial Photography Part 8 : Bali

Senin, 11 Juni 2012

Street Food ala Bangkok


Aneka Barbecue mulai dari seafood, sosis, beef, pork, chicken, jagung, pokoknya semua yang bisa dibakar
Kota Bangkok adalah surga bagi penggemar street food. Sebenarnya Indonesia juga tidak kalah dalam variasi dan kelezatan street foodnya. Namun jajanan street food Bangkok sudah terlanjur beken di tingkat Internasional.

Bangkok memang kota yang patut diacungi jempol. Di kota ini Pusat pemerintahan berpadu dengan pusat kebudayaan, pusat keagamaan, pusat perekonomian negara, pusat pariwisata dan pusat makanan enak ala Thailand tentunya. Sebagai kota metropolitan, Bangkok memang tergolong padat, kompak namun lebih nyaman dari Jakarta.

Pariwisata di kota ini juga sangat menonjol. Di Kawasan Khaosan -Sisi internasional kota ini sangat berasa-Turis-turis asing dari berbagai negara berjalan memadati jalanan padat penuh pertokoan dan deretan kaki lima.
Dan yang membuat menyenangkan adalah, deretan penjaja makanan yang unik dengan harga yang  murah. 

Ini dia beberapa jajanan yang berhasil numpang lewat di perutku selama jalan-jalan ku di Bangkok.

Pedagang Som Tam : Salad Pepaya Muda

Som Tam, Green papaya salad.
Khao Neeo Mamuang alias Sticky Rice with Mango
Bermacam jajanan buah segar (tapi tetep : enakan Rujak di Indonesia)

Pedagang fried insect di Khaosan Road. Patut dicoba!

Jajan Jangkrik dan Belalang, Rasanya seperti udang kering, enak dan tidak seseram wujudnya

Pad Thai, mie goreng ala Thailand
Hor Mok, Otak-otaknya Thailand. sedikit berkuah dan dimakan dengan irisan cabai rawit dan bawang merah
Khanom Buang, Crepes ala Thailand. biasa berisi krim dari kelapa, kismis dan "something" yang rasanya sedikit berempah
Salah satu street food yang cukup terkenal : Khanom Buang di MBK mall, 
Chicken in lemongrass
Ayam Daun Pandan ala Thailand

Rad Nar Chicken (atas) dan Pad Krapao (bawah) saat santap siang di Chatuchak Weekend Market
Tom Yang Kung (the legend one)
Thailand Baht (1 THB sekitar 300 IDR)


Related Articles :

Selasa, 05 Juni 2012

Thailand Food : Sticky Rice With Mango


ข้าวเหนียวมะม่วง
Khao Neeo Mamuang adalah nama makanan ini dalam bahasa Thai. 
Wujudnya berupa dessert yang terbuat dari ketan putih yang gurih, ditambah irisan mangga matang manis dan disiram sedikit kuah santan kental.

Perpaduan yang sedikit aneh memang bagi orang Indonesia, tapi rasanya enak dan ternyata pas banget. Sticky rice with mango adalah salah satu jajanan street food yang terkenal di kota Bangkok. Bangkok memang terkenal dengan makanan street foodnya yang banyak, bervariasi dan enak-enak. Dengan merogoh kocek 30 Baht (sekitar 9000 Rupiah), kita sudah dapat menikmati seporsi hidangan pencuci mulut yang satu ini.

Berdasar dari web - web lain, ternyata gampang membuat makanan yang satu ini. Hanya sepertinya musiman, karena mangga tidak berbuah sepanjang tahun. Mangga yang digunakan adalah mangga yang manis, dan menurutku "Mangga Harum Manis" lah yang pailing cocok untuk dibuat sticky rice mango. 

Sticky rice mango
Ini dia contekan resepnya dari cari-cari di web tetangga sebelah :
Bahan-bahan :
1 1/2 cangkir ketan putih (kadang bisa dipakai juga ketan hitam)
2 cangkir air
1 1/2 cangkir santan
1 cangkir gula pasir

1/2 sendok teh garam
3 buah mangga matang yang diiris sesuai selera
1 sendok makan wijen yang disangrai


Untuk sausnya :
1/2 cangkir santan
1 sendok makan gula pasir
1/4 sendok teh garam
1 sendok makan tepung tapioka


Cara membuat :
Didihkan ketan dengan air, tutup dan kecilkan apinya. Masak dengan api kecil hingga airnya meresap selama 15-20 menit. 
Sementara menunggu ketan  masak, didihkan campurkan 1 1/2 cangkir santan, 1 cangkir gula dan garam dengan panas sedang;
Setelah mendidih angkat santan dan campurkan dengan ketan yang sudah masak tadi. 
Aduk hingga rata; tutup dan diamkan selama 1 jam
Untuk membuat sausnya; campur 1/2 cangkir santan dengan gula, garam dan tepung tapioka. Panaskan hingga mendidih.

Sajikan ketan dengan irisan mangga yang telah ditata, kemudian siramkan dengan saus santannya dan taburi dengan wijen yang telah disangrai.

Jajan Sticky Rice with Mango di Khaosan Road
Related Articles :
Vietnam Cuisine : Nom Bo Kho and Pho
Street Food ala Bangkok
My South East Asia Tour on February 2012
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...