Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

Jebakan Betmen di Kawah Domas, Tangkuban Perahu


Kawah Domas adalah nama salah satu kawah dari setidaknya 9 kawah yang ada di Gunung Tangkuban Perahu. Meski tak seterkenal Kawah Ratu (yang merupakan kawah terbesar di Gunung Tangkuban Perahu), namun kita bisa menikmati lebih banyak aktivitas menyenangkan disini (foto-foto, berendam air hangat, self-vulcanic spa, rebus telur) untuk melengkapi kunjungan kita berwisata di Komplek Wisata Alam Tangkuban Perahu.

Jika Kawah Ratu terletak di tepi jalan raya, maka untuk mengunjungi Kawah Domas kita perlu sedikit usaha ekstra untuk berjalan kaki melewati jalan setapak. Ada 2 jalan menuju ke Kawah Domas, yaitu dari Parkiran Kawah Ratu dan dari Parkiran Kawah Domas. 2 jalan ini sama-sama berupa jalan setapak. Jika fisik anda terbatas maka aku sarankan memilih akses via Parkiran Kawah Domas yang jalannya relatif datar dengan jarak tempuh hanya sekitar 500 meter. 

Jika anda gemar berpetualang maka tetap kusarankan akses via Parkiran Kawah Domas juga hahaha. Intinya akses via parkiran Kawah Ratu tidak aku rekomendasikan, apalagi anda membawa kendaraan dan memarkir di area Kawah Ratu. Jarak yang yang ditempuh via jalur ini lebih jauh (sekitar 2 km) dan melewati medan yang berbukit kadang agak licin. Untuk orang yang tidak terbiasa hikking mah berasa banget untuk atur nafasnya. Padahal jalanan dari Parkiran Kawah Ratu menuju Kawah Domas relatif menurun tuh.

Tiba di Kawah Domas juga bukan suatu yang membuat hati lepas bahagia bagi anda yang memilih akses via Parkiran Kawah Ratu. Kengerian akan melanda manakala membayangkan jalan kembali menuju parkiran Kawah Ratu untuk mengambil kendaraan anda. 2 kilometer akan kembali dilalui dan kali ini dalam posisi menanjak hahahaha. Males banget bayanginnya.

Kalian pasti sudah dapat menebak kalau kali itu aku kejeblos masuk Kawah Domas via Parkiran Kawah Ratu. Semua berawal dari petunjuk salah berjamaah yang diberikan pedagang warung dan guide jadi-jadian yang banyak berada di tempat ini. 

Perlu ekstra hati-hati memang dengan penduduk lokal yang berusaha memanfaatkan ketidaktahuan para "turis" seperti kami yang berpikir lurus-lurus saja.


Jebakan Betmen 1 (Pedagang warung sumber sengsara)
Kami sudah masuk ke akses jalan menuju Kawah Domas via parkiran Kawah Ratu. tak sampai 5 menit kami menemui sebuah warung di tepi jalan setapak itu. Kami putuskan untuk bertanya karena kami bermaksud balik ke parkiran untuk pindahkan mobil kami jika ternyata akses via jalur ini sulit.
si ibu pedangang warung mengatakan : "lewat jalan ini saja, jalannya menurun". 
"Tapi bu kami parkir di Kawah Ratu lohhh..." jawabku
"Pelan-pelan juga sampai dek. Lanjutin aja jalannya daripada parkir lagi di Domas. Dari Domas juga banyak angkot ke Kawah Ratu, tar tinggal naik angkot aja dari Domas.
Gak sekalian beli telur untuk direbus di Domas dek? murah cuma 4 ribu" lanjut si ibu
(telur mentah 4 ribu per biji kok murah sih??) pikirku dalam hati
"Bu, numpang ke WC saja bu, teman saya mau kencing."
Ooo... silahkan ke samping, WC nya disamping, maaf kotor. 
(Ramah juga nih ibu ijinin pake WC nya, beli aja deh telurnya sapa tau beneran di Kawah Domas malah lebih mahal), Bu... telurnya kurangin dong harganya.
3 butir 10 ribu deh, nanti ibu plastikin dan kasih tali biar bisa langsung rebus di Kawah Domas
"Oke deh bu"
"Ini dek telurnya, jadi 12 ribu ya sama uang toiletnya".
(hahahaha asem ini mah ga jadi nawar, toiletnya 2 ribu coi). Ini Bu 12 ribu #dengan wajah datar

sambil melanjutkan perjalanan aku bilang ke temanku : "makanya Do jangan sok ke Toilet, mana toiletnya ga jelas kayak tadi. Ini kan hutan, kencing aja di semak-semak (sambil aku kencing di semak), nihhh gua lagi HEMAT 2 ribu hahaha.
(NB : Ibu ini adalah orang yang paling aku caci maki dan sumpahin setelah tau betapa susahnya akses balik dari Kawah Domas ke Kawah Ratu. Kasih info yang jujur nape? kan gak bikin susah orang).


Jebakan Betmen 2 (Guide jadi-jadian dengan tarif luar binasa)
Untuk jebakan betmen ini aku gak kena sih untungnya.
Saat melanjutkan perjalanan, kami melewati sebuah pondokan kecil tempat beberapa orang berkumpul. Waduhh ada apa nih, kok di tengah jalan kayak ada check point gini plus beberapa orang kumpul? Aku lewat saja sambil memberi salam.

Tiba-tiba tanpa diminta seorang anak mengikuti aku dan temanku dari belakang. aku baru menyadarinya setelah 100an meter. 
Ada apa dek? tanyaku
Nggak apa-apa kak, cuma nemenin aja.
Oooo, makasih dek, kami jalan sendiri saja, adek gausah ikut.
Gapapa kak, biar ditemeni saja sampai Kawah Domas.
Tidak usah dek, kami tau jalannya (padahal gatau juga jalannya  sih hahaha. Tapi percayalah, tak perlu guide di tempat ini karena setelah kami lewati jalannya ya hanya 1).
Di sini aturannya wajib ditemani kak.
(mulai maksa nih... uda bikin kesal) Gak usah dek, kami tidak mau #Dengan nada agak tinggi sambil pasang muka kesal terus lanjut jalan tanpa nengok ke belakang.

Berhasil.... tuh anak gak ikut lagi di belakang.

Pemandangan hutan berkabut di jalur ini keren loh. Kalau demen foto-foto boleh deh coba akses jalur ini.

(NB : Saat di Kawah Domas kami melihat seorang ibu yang di guide dimintai uang 200 ribuan, padahal mereka hanya di guide tidak jelas dan melumuri kaki sang visitor dengan lumpur vulkanik ala spa)
Lumayan Do, kita hemat banyak. untung gak diikutin guide (sambil menggosok kaki dengan lumpur vulkanik ala spa). Kalau cuma ngolesin lumpur gini kan bisa sendiri ya Do walau gak pakai guide.

Tak lama munculah pedagang telur : "Mau beli telur dek? sebutir 2 ribu untuk direndam di kawah"
"APA??? Telurnya sebutir 2 ribu pak?? Sial bener tuh ibu tadi telurnya muahal, uda gitu kan repot karena aku harus menjaga 3 telur dalam plastik itu gak pecah sepanjang 2 kilometer jalan menurun menuju Kawah Domas! mana pegang kamera dan lain-lain. Yahhhh ketipu deh Do, mending beli telurnya disini aja T.T
Vulcanic Mud Spa
3 telur ajaib yang kujaga tidak pecah sepanjang perjalanan :D

Vulcanic-Boiled Egg
Jebakan Betmen 3 (tukang ojek sialan)
Singkat kata kami sudah selesai menikmati Kawah Domas, kaki sudah relax berendam di air hangat sambil dioles lumpur vulkanik. Perut lumayan terganjal berkat 3 telur rebus ajaib yang kujaga supaya tidak pecah sepanjang jalan yang licin menurun.

"Wil, pulangnya gimana nih? gua gak sanggup pulang lewat jalan tadi lagi."
Waduhhh terus lewat mana lagi ya do? Coba tanya orang warung saja deh (di Kawah Domas ada juga warung yang menjual telur (harga 2 ribu hahaha) dan souvenir. Dia menyarankan kita keluar lewat parkiran Domas yang lebih landai, jauh perjalanannya sekitar 500 meter.

Yuk Do kita pulang! Panggilku kepada Reinaldo temanku.
Gua cape Wil, mana masih kudu nyetir ke Jakarta habis ini. gua naik ojek aja deh.
Yaudah, coba aja kita cari ojek, tapi disini masih belum ada. Jalan dulu aja, lagian kalau bener 500 meter kan nggak jauh.

Aku menyalakan MP3 sambil melewati jalan landai dengan sedikit tanjakan (pikirku : kenapa tadi gak lewat sini aja ya? Sialan tuh ibu warung ngasih info sesat). Kemudian kulihat pondok dengan seorang sedang membuat kerajinan dari batang pakis hutan.

Wahhh bagus ya pak hiasan dari batang pakisnya (basa-basi tapi beneran aku berusaha ramah dan tulus memuji karena bagus) Pak, ada ojek gak dari sini?
Kalau mau ya bisa De, tapi tunggu motornya balik. lagi dipake untuk antar tamu turun
(syukurlah bisa naik ojek dari sini) Berapa pak kalau naik ojek sampai parkiran Domas?
100 ribu Dek
(Glekkk mahal amat) Bisa kurang pak?
60 ribu
Do, gua jalan kaki aja deh, elu kalau mau naik ojek terserah, 60 ribu mah gak kira-kira. jalan aja pelan-pelan kan gak terlalu nanjak. kalau bener 500 meter kan nggak jauh.

Makasih Pak, sambil berjalan meninggalkan bapak itu.

Setelah berjalan agak lama tiba-tiba terdengar klakson kencang berulang-ulang dari belakang kami, ada 2 motor agak ngebut membonceng pasangan bule dengan anaknya. Kami sudah minggir, tapi ya motor itu ngebut di jalan licin berbatu seperti ini sehingga dia menabrak batu. Dia pergi sambil mengumpat.
"Lahhh memang salah kita? suruh sapa dia ngebut?"

Pelan tapi pasti, akhirnya kami sampai di parkiran Domas. jalannya terbukti lebih pendek dan datar.
Tiba-tiba seorang menghampiri kami, rupanya bapak tukang ojek yang kami sempat tawar di atas. Dia maalh dan bilang, "kalau mau jalan kaki ya minggir kalau ada motor lewat, tadi saya sampai nabrak batu gara-gara kalian!"
(dalem hati mau bilang : emang jalan nenek moyang lu? -mungkin juga sih jalan nenek moyang nya hahaha- mau minggir kayak gimana lagi? sampai masuk jurang gitu? lagian siapa suruh elu ngebut?)

Pantesan dia gak mau tarif kurang dari 60 ribu saat tadi kutawar, soalnya dalam waktu singkat dia toh bisa dapat bule yang bisa dia palak sampai 100 ribu per orang. Bule rasanya cuma bisa pasrah pada posisi itu.

Lagi-lagi ketemu makhluk sialan di tempat ini. Semuanya berawal dari ibu warung sialan.

Jalan setapak antara Parkiran Kawah Ratu menuju Kawah Domas
Jebakan Betmen 4 (angkot ngetem ATAU angkot mahal?)
Nahhhh sekarang tinggal mikir bagaimana cara ke parkiran Ratu dari parkiran Domas. Kalau tadi kita pindah parkiran masalahnya jadi simpel dan sudah dari tadi-tadi kita bisa pulang.

Naik ojek deh Do, elu naik ojek. terus jemput gua di bawah terus kita langsung cabut pulang.
Bisa ditebak tarif ojeknya 75 ribu T.T
Pilihan lainnya naik angkot. Kalau mau langsung jalan bayar 150 ribu untuk berdua. Kalau mau bareng-bareng ya 20 ribu tapi ngetem sampai rada penuh.

Udah mau meledak rasanya, terlalu banyak oknum pemeras di objek wisata ini. 
Terlalu banyak info yang salah yang diberikan untuk mengeruk setiap rupiah yang dimiliki para pengunjung yang tidak tahu. Mungkin mereka berpikir, tidak setiap hari turis-turis ini ke sini. Mumpung sedang disini kita kuras saja uangnya.
Sampai aku berjanji akan menuliskan ulah mereka supaya gak ada yang kejeblos lagi kayak aku (atau minimal bisa sama-sama senyum kalau pernah kejeblos juga)

Gua jalan kaki aja Do! Gua udah kesel di sini. Gua mau pulang SEGERA dari tempat ini.

Ehhh memang rejeki, tiba-tiba angkot tadi kemasukan beberapa orang juga (yang kayaknya ketipu juga) dan siap meluncur ke kawah Ratu. Biayanya 20 ribu per orang......... yahhh sudahlah...... (pasrah).

Lega rasanya melihat mobil Reinaldo yang terparkir manis di Kawah Ratu. Kami pun foto-foto di Kawah Ratu (lagi) dan istirahat sejenak sambil mengutuki ibu warung yang pertama kali menyarankan dengan pedenya agar kita lewat jalur dengan jebakan-jebakan betmen yang menyebalkan. Sialan tuh ibu!!!
Kawah Putri, Kawah utama Gunung Tangkuban Perahu
Kawah Domas yang mendidih



Related Articles :

Minggu, 01 September 2013

Gunung Tangkuban Perahu

//:willysteven

Salah satu obyek wisata yang sejak lama beken di Jawa Barat adalah Gunung Tangkuban Perahu. Gunung dengan ketinggian 2048 meter ini terletak sekitar 30 km di utara Kota Bandung dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya.

Objek wisata ini sangat erat kaitannya dengan legenda Sangkuriang yang merupakan cerita rakyat dari masyarakat Jawa Barat. 

Singkat cerita dikisahkan Sangkuriang yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri, yaitu Dayang Sumbi karena mereka berdua telah lama berpisah dan Dayang Sumbi memiliki ilmu tinggi sehingga tetap awet muda. Sangkuriang bersikeras untuk memperistri Dayang Sumbi. Karena mengetahui ikatan darah tersebut, Dayang Sumbi menolaknya dengan memberi syarat yang berat. Sangkuriang harus membuat sebuah telaga dan perahu dalam waktu semalam. Sayang walau telaga tersebut telah selesai, namun perahu yang diminta Dayang Sumbi tidak selesai tepat pada waktunya. Karena marah dan kesal, perahu itu ditendang oleh Sangkuriang dan membentuk sebuah gunung yang menyerupai bentuk perahu terbalik.

Atraksi utama di Gunung Tangkuban Perahu adalah menyaksikan Kawah Ratu yang merupakkan kawah terbesar di gunung ini dan masih aktif. Tempat parkir di daerah ini cukup luas, namun sayang terlalu banyak pedagang, calo parkir yang membuat area ini menjadi kurang nyaman. Pada musim liburan juga kawasan wisata ini dipastikan akan dipenuhi pengunjung karena akses nya yang terbilang relatif mudah. 

Objek wisata lain yang sangat sayang dilewati adalah Kawah Domas. Kawah Domas memang tak sebesar kawah ratu, namun anda bisa merendam kaki di air hangat, self-spa lumpur vulkanik hahaha, dan memasak telur rebus di kawahnya.

Jalan setapak menuju Kawah Domas dari Parkiran Kawah Ratu
Kawah Domas
Hati-hati dengan pedagang lokal di sini yang kadang memberi info sesat untuk keuntungan mereka sendiri dan beberapa orang yang memaksa untuk menemani perjalanan anda sebagai guide dan akhirnya meminta tip yang luar biasa. Inilah salah satu hal yang saya rasa perlu untuk ditindaklanjut oleh pengelola wisata agar para wisatawan tidak membawa kesan buruk mengenai Tangkuban Perahu.

Tiket masuk di obyek wisata ini adalah Rp. 12.500,-/orang, Rp. 9.000,-/mobil, Rp. 4.000,-/motor, dan Rp. 17.500,-/bus.

Jika anda mengendarai mobil maka sepertinya tidak sulit mengunjungi objek wisata ini. arahkan kendaraan anda ke arah Lembang dan selanjutnya ikuti petunjuk jalan yang ada. Bagi pengguna kendaraan roda dua, gunakan jalur alternatif Bandung-Lembang, yaitu melalui Dago dan Pagerwangi yang berjarak sekitar 5 Km, melewati Pasar Lembang. Jalan menuju kawasan wisata ini sudah teraspal dengan baik, tetapi terdapat beberapa tikungan tajam yang curam. Dari Lembang, hanya 11 Km ke arah Subang untuk dapat mencapai gerbang utama obyek wisata Gunung Tangkuban Perahu.
Jalan raya antara Lembang-Tangkuban Perahu
Pintu masuk kawasan wisata alam Gunung Tangkuban Perahu







Related Articles :

Sabtu, 02 Februari 2013

Pantai Pangandaran

Sunset di Pangandaran

Pangandaran adalah nama pantai di pesisir selatan Jawa Barat. Pantai ini merupakan salah satu pantai terbaik di Pulau Jawa karena keindahannya dan banyaknya objek wisata pendukung di sekitarnya. Pantai ini terletak di Kabupaten Pangandaran yang berjarak sekitar 8 jam dari Jakarta atau 4 jam perjalanan dari Bandung.

peta wisata pangandaran

Kawasan Wisata Pangandaran terletak di sebuah tanjung dengan area cagar alam di bagian ujungnya. Dan karena letaknya yang istimewa itulah kita bisa menyaksikan Sunset dan Sunrise sekaligus di Pangandaran, karena jarak antara Pantai Barat dan Pantai Timur tidak terlalu berjauhan.
Tiket-tiket kawasan wisata Pangandaran
Kawasan Wisata Pangandaran terletak di satu area yang terpusat di satu pintu gerbang. Untuk memasukinya kita akan dikenakan tarif masuk sebesar Rp 12.500 dan bla bla bla sehingga total anda membayar Rp. 20.000. Simpan karcis itu baik-baik, karena kemungkinan anda akan keluar dari area itu untuk ke Green Canyon, Pantai Batu Hiu dan sebagainya yang notabene keluar kawasan wisata Pangandaran. Jika anda tak bisa menunjukan karcis masuk sebelumnya di pos penjagaan, maka anda harus membayar ulang tiap kali anda memasuki Pangandaran.

Di dalam Pangandaran, kita akan menemukan hotel berjajar di sepanjang jalan, dan mulai dapat mengintip pantai barat, pantai timur, cagar alam, pasar ikan dan tempat souvenir. 

Jika anda belum membooking hotel maka biasa ada orang yang akan mengikuti kendaraan anda dengan motor sambil menawarkan kamar murah di rumah penduduk. Waktu itu aku cari aman dengan menolak tawaran tersebut dan mulai menyinggahi satu per satu hotel yang berderet dan memberikan banyak pilihan.

Pantai pasir putih terletak di pesisir barat Pangandaran dan merupakan pusat atraksi dan tempat yang indah untuk melihat sunset, Pantai timur lebih berbatu dan dimanfaatkan untuk aktivitas permainan air seperti jetski, banana boat dan lainnya. Sehingga kita dapat menemukan deretan dermaga dan warung yang menawarkan permainan air di sepanjang pantai timur. Pemandangan di pantai timur biasa saja menurutku. 

Pantai Barat Pangandaran
Di ujung selatan kita akan menemukan pintu masuk ke area cagar alam. Di dalam cagar alam kita bisa juga menemukan pantai. Namun hati-hati dengan barang bawaan anda karena ada monyet juga di pantai cagar alam. di cagar alam juga kita bisa melakukan treking, tapi awas nyasar dan jangan berjalan jauh-jauh dari jalur umum. Karena kawasan ini cukup luas. Karena waktu yang terbatas, aku men skip cagar alam dari itinerary ku selama mengunjungi Pangandaran.

Yang juga tidak boleh dilewatkan adalah pasar ikan. Walaupun kondisinya kurang begitu bersih namun di tempat ini kita dapat menemukan restoran yang menjual seafood segar. Tinggal pilih jenis seafood yang kita mau, timbang dan tentukan mau dimasak apa. Bawal masak tausi menjadi rekomendasi saya kalau anda pesan makanan, Udang masak telur asinnya juga lumayan tuh. Duh mendadak jadi ngiler ngebayangin Bawal masak tausinya. Memakan seafood sambil menikmati angin laut memang terasa pas. Apalagi harga seafoodnya lumayan wajar.

Jika anda sudah puas menikmati Pangandaran, berkelilinglah ke objek wisata sekitar. Cukang Taneuh alias Green Canyon di Cijulang merupakan objek wisata lain yang terkenal dan berjarak sekitar 40 menit ke arah barat dari Pangandaran. 

Jika anda menyusuri jalan raya ke arah Parigi, maka anda akan menemukan berturut-turut Pantai Batu Hiu, kemudian Kota Parigi (ibukota Kabupaten Pangandaran), Green Canyon, dan terakhir Pantai Batu Karas.


Pantai Timur Pangandaran
Pantai Barat Pangandaran
Pantai Batu Hiu
cukang taneuh pangandaran
Cukang Taneuh / Green Canyon, Cijulang, Pangandaran
Pangandaran
Related Articles :

Minggu, 23 Desember 2012

Lembah Karmel Lembang


Jika anda mengunjungi daerah wisata Lembang-Bandung, banyak lokasi wisata yang dapat anda kunjungi. Objek-objek wisata yang sudah tersoror antaranya Tangkuban Perahu, Ciater, Maribaya, Observatorium Bosscha. Namun saya baru mengetahui adanya tempat doa yang cukup tenang di daerah Lembang yaitu Lembah Karmel.

Berawal dari ajakan teman saya yang seorang Katolik, dia mengajak saya di sela-sela acara libur dadakan kami ke Bandung untuk mengunjungi Lembah Karmel Lembang. Lokasinya di tengah-tengah Lembang dan strategis. Memang cukup terkejut bahwa terdapat tempat berdoa dengan suasana tenang di tengah-tengah kawasan Lembang yang ramai.

Anda bisa membeli lilin untuk berdoa di kios gereja dan di dalamnya terdapat gua Maria dan Jalan Salib serta replika Golgota dan makam Yesus lengkap dengan mahkota duri dan pakunya. Jika anda seorang Katolik, tak ada salahnya untuk mengunjungi tempat ini untuk sekedar berdoa dan melakukan jalan salib. Lokasi yang mudah diakses dan lingkungannya yang tenang akan mendukung kita untuk berdoa lebih dalam dan khusyuk.











Related Articles :

Minggu, 19 Februari 2012

Cirebon : Mesjid Agung Sang Cipta Rasa

Mesjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon) adalah sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat. Konon, masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, yaitu dibangun sekitar tahun 1480 Masehi atau semasa dengan Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.


Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak di sebelah utara Keraton Kasepuhan. Masjid ini terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Untuk menuju ruangan utama, terdapat sembilan pintu, yang melambangkan Wali Songo.




Keunikan masjid ini terletak pada atapnya yang tidak memiliki      kubah.  Konon, dahulunya masjid ini berkubah. Namun, saat azan pitu (tujuh) salat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap Sholat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar Adzan Pitu. Yakni, adzan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang berseragam serba putih.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...