Minggu, 13 Januari 2013

Kampung Bena



Kampung Bena, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur
Nama Kampung Bena mungkin asing di telinga kita. Namun sebuah iklan minuman berenergi mencantumkan nama Kampung Bena dan Gunung Inerie saat mempromosikan "Ayo ke Labuan Bajo". Dan berawal dari iklan itu aku mulai penasaran : "ada apa yang istimewa di Kampung Bena?"

Kampung Bena terletak di Kabupaten Ngada, yang masih memerlukan perjalanan beberapa jam dari Labuan Bajo. Kota terdekat adalah Bajawa yang berjarak 15 km. Aku sendiri berangkat dari Ende saat itu untuk mencapai kampung Bena menggunakan mobil carter dengan perjalanan sekitar 3 jam dari Ende.

Perjalanan dari Ende menuju Bajawa akan diawali dengan menyusur pesisir pantai Ende yang berpasir hitam, kemudian naik ke wilayah pegunungan dengan pemandangan lembah, gunung yang elok dipandang mata. Indah, tapi tidak ada yang istimewa dan khas. hal-hal seperti itu lazim ditemui di tempat lain. Namun waktu seolah berhenti ketika kita tiba di Kampung Bena. Tepat di sisi jalan kita bisa menyaksikan deretan rumah-rumah adat dengan batu-batu gamping hitam besar kecil menjadi pagar dan undakan menuju sebuah kompleks kampung megalitikum yang masih sangat terpelihara hingga saat ini.

Kampung Bena dilihat dari tepi jalan raya
Seolah terlempar ke beberapa abad sebelumnya, di kampung ini kita bisa melihat batu-batu gamping runcing berukuran besar yang berdiri tegak ala menhir. Bukan hanya itu, deretan rumah adat tradisional beratap rumbia berjajar rapi di kiri dan kanan dalam formasi bertingkat. Di latar belakangnya tampak Gunung Inerie yang berwarna hijau dengan bentuk nyaris seperti segitiga utuh.

Bena merupakan kampung adat di Flores yang masih mempertahankan budaya dan gaya hidup tradisional. Formasi batu-batu megalitikum berusia 1200 tahun berjajar tegak di  antara rumah-rumah panggung beratap rumbia dengan hiasan prajurit bersenjata di atas tiap atap. Formasi batu tersebut menjulang di tengah-tangah kampung dan beberapa di ataranya menyerupai altar/meja. Batu-batu tersebut terletak di tempat serupa lapangan yang bertingkat. Lapangan tersebut terletak diantara 2 barisan rumah yang berderet sejajar. Di lapangan tersebut juga terdapat beberapa bangunan serupa payung yang nampak sering digunakan seperti tempat berteduh. 

Di ujung lapangan tersebut yang merupakan akhir dari deretan rumah tradisional, kita akan melihat sebuah Gua Maria. Ya, warga Bena merupakan penganut agama Katolik namun tetap mempertahankan kepercayaan dari masa megalitikum yang masih terpelihara baik hingga saat ini.

Menhir dan batu mendatar serupa altar yang terdapat di tengah kampung Bena
Gunung Inerie dilihat dari Kampung Bena
Kampung ini terletak di kaki Gunung Inerie yang masih dalam status aktif. Gunung ini nampak hijau kekuningan karena sebagian besar berupa lahan gundul, walau masih menyisakan hutan di bagian puncaknya. Gunung ini akan tampak seperti segitiga sempurna dengan sisi yang rapi jika kita melihatnya dari lokasi tertentu (persis seperti lukisan anak TK yang biasa menggambar gunung berbentuk segitiga dengan penggaris). Inerie terakhir meletus pada tahun 1970. Gunung berapi ini menjadi penting bagi masyarakat Bena, karena mereka meyakini bahwa Zeta-dewa pelindung mereka tinggal di gunung tersebut.

Nilai-nilai tradisi dan gaya hidup tradisional menjadi daya tarik kampung ini. Selama turun temurun mereka mewariskan adat dan tradisi nenek moyang termasuk mewariskan keahlian menenun bagi tiap wanita yang tinggal di sana. Pemandangan wanita menenun di teras rumah panggung di kampung Bena adalah pemandangan lazim yang kita temui. Mereka menenun menggunakan teknik tradisional dan menjual hasil tenunannya dangan menggantungkannya di muka rumah. Harganya yang ditawarkan sangat wajar jika kita menilik proses pengerjaannya yang masih handmade dan memakan waktu lama. Motif khas dari tenunan mereka adalah motif kuda.
Menenun adalah aktivitas sehari-hari wanita Bena dan mereka menggantungkan hasil tenunannya di muka rumah untuk  dijual
Berfoto bersama seorang wanita Bena yang sedang menenun

Motif kuda pada kain tenun yang berwarna merah adalah motif khas tenunan Bena
Selain menhir dan tenunan. Penduduk Bena juga mengandalkan sektor perkebunan sebagai mata pencaharian mereka. Di lapangan di tengah kampung tersebut kita juga dapat menemui cengkeh, kemiri yang sedang dijemur. Vanili juga merupakan salah satu hasil kebun mereka yang mereka jual dalam ikatan-ikatan kecil yang dipajang di pagar rumah.



Rahang babi yang tersusun rapi di sebuah rumah di Kampung Bena
Jika anda berkunjung ke Flores, Kampung Bena merupakan salah satu objek wisata yang sayang anda lewatkan. Di kabupaten Ngada kita juga dapat menemui objek wisata spektakuler lainnya yaitu Taman Laut Riung 17 Pulau, Mata Air Panas Soa dan rumah Retret yang indah di Mataloko.

Kampung adat lainnya di Flores : Kampung adat Koanara di sekitar Danau Kelimutu
Taman Laut Nasional Riung 17 Pulau
Rumah Retret Katolik Mataloko di jalan raya antara Ende-Bajawa
Mata Air Panas Soa yang berwarna kehijauan

Related Articles :
Yang Unik dan Menarik di Kabupaten Ngada, Flores
Pulau Kanawa, Mutiara di Laut Flores
Nunbena, Traditional Highland Village of NTT
Jadwal Festival Terbaik di NTT

Sabtu, 12 Januari 2013

Colors of the Wind


Colors of the Wind adalah salah satu lagu yang text nya aku suka (dengan mengabaikan unsur animisme nya). Menggambarkan begitu banyak keindahan yang akan kita dapatkan bila kita berinteraksi dengan hormat, harmonis dan menikmati setiap anugrah yang Tuhan berikan melalui alam. Menikmati keberagaman budaya, manusia, bentang alam dan lain-lain yang membuat dunia berwarna-warni dan indah.

Perasaan yang disyairkan lewat lagu Colors of the wind mungkin bisa jadi akan mewakili perasaan para  traveller saat mereka menyadari betapa sempitnya dunia yang mereka kenal; betapa kecilnya apa yang mereka tahu tentang bumi yang mereka kenal; betapa kayanya keberagaman alam dan budaya yang mereka temukan; dan betapa banyak rasa yang bisa mereka resapi dan kecap dalam-dalam lewat seluruh indra mereka. Perasaan tersebut yang membuat mata dan hati seorang traveller terbuka menerima berbagai perbedaan dan toleran menerimanya dengan atau tanpa turut larut di dalamnya.

Pada postingan kali ini, aku ingin menuliskan text lagu Colors of the Wind beserta beberapa foto pelangi yang sempat kutangkap dengan kameraku.

Full Rainbow on Sunua District, Kaimana, West Papua, Indonesia
Penampakan 2 Pelangi yang amat jarang -Kaimana, Papua Barat

Colors of the Wind 

You think you own whatever land you land on
The earth is just a dead thing you can claim
But I know every rock and tree and creature
Has a life, has a spirit, has a name
You think the only people who are people
Are the people who look and think like you
But if you walk the footsteps of a stranger
You'll learn things you never knew you never knew

Have you ever heard the wolf cry to the blue corn moon
Or asked the grinning bobcat why he grinned?
Can you sing with all the voices of the mountain?
Can you paint with all the colors of the wind?
Can you paint with all the colors of the wind?

Come run the hidden pine trails of the forest
Come taste the sun-sweet berries of the earth
Come roll in all the riches all around you
And for once, never wonder what they're worth

The rainstorm and the river are my brothers
The heron and the otter are my friends
And we are all connected to each other,
In a circle, in a hoop that never ends

Have you ever heard the wolf cry to the blue corn moon
Or let teh eagle tell you where he's been
Can you sing with all the voices of the mountain?
Can you paint with all the colors of the wind
Can you paint with all the colors of the wind

How high does the sycamore grow?
If you cut it down, then you'll never know
And you'll never hear the wolf cry to the blue corn moon
For whether we are white or copper-skinned
We need to sing with all the voices of the mountain
Need to paint with all the colors of the wind
You can own the earth and still
All you'll own is earth until
You can paint with all the colors of the wind

Vanessa Williams, Colors Of The Wind, OST. Pocahontas

Double Rainbow in Waho District, Kaimana, West Papua

Related Articles :

Selasa, 08 Januari 2013

FAJAR dan senja



Fajar dan senja adalah saat favorit bagiku untuk mengabadikan keindahan langit melalui semburat warna-warninya. Walau pun warna langit fajar tak sedramatis senja, namun kehadiran fajar sering dikaitkan dengan harapan, semangat, kebangkitan dan hal-hal positif. 

Berbeda dengan senja, untuk mengambil foto-foto fajar seringkali membutuhkan "pengorbanan" untuk bangun lebih pagi. Apalagi tempat favorit untuk ku dalam mengambil foto-foto fajar adalah saat menyaksikan matahari terbit dari puncak gunung. 

Lokasi terbaik yang pernah kukunjungi saat menangkap momen fajar melalui kamera adalah di Bromo. Pemandangan ala lukisan terhampar dihadapan mata. Ditambah lagi mendadak aku kangen matahari secara luar biasa pada saat itu karena suhu di Bromo yang dinginnya minta ampun saat subuh. Fajar pagi hari itu benar-benar merupakan obat manjur untuk mengatasi dingin yang menusuk tulang dan untuk memuaskan rasa penasaranku menyaksikan keindahan Bromo Tengger dan Semeru.

Bersama postingan kali ini saya tampilkan beberapa foto Sunrise yang sempat tertangkap kameraku dari beberapa lokasi.

Fajar di Danau Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Timur
Menyaksikan fajar dari Dieng dengan pemandangan Gunung Sindoro 
Sang Fajar, Dataran Tinggi Dieng
Fajar di Puncak Penanjakan, Bromo
Sunrise from Mt. Penanjakan, Bromo
Fajar di Angkor Wat, Kamboja
Sunrise in Glory Cruise in Ha Long Bay, Vietnam
Wat Arun, Bangkok. Temple of the Dawn
Related Articles :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...